Share

BCA Soroti Perkembangan StartUp di Indonesia

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Rabu 30 Maret 2022 20:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 30 320 2570587 bca-soroti-perkembangan-startup-di-indonesia-F9DJIEcJKe.jpg BCA soroti perkembangan startup di Indonesia (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Perusahaan rintisan teknologi alias startup di Indonesia meningkat seiring berkembangnya digitalisasi. Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Haryanto Tiara Budiman mengatakan pendanaan startup menjadi kunci utama bagi 'hidup atau mati' nya perusahaan.

"Startup digital ini kan biasanya punya solusi yang inovatif dan groundbreaking. Nah karena baru di pasar, maka kemungkinan gagal lebih besar dari sebagian besar bisnis konvensional lainnya," kata Haryanto, dalam HIPMI Digital Fest 'Digital Industry From Survival To Revival', Rabu (30/3/2022).

Haryanto mengungkapkan terdapat sejumlah sumber funding startup yang dapat menjadi pijakan bagi para founder yang baru akan memulai usaha mereka.

Pertama adalah bootstraping. Sumber pembiayaan ini berasal dari kantong pribadi sang pendiri atau pemilik startup, yang biasanya sedang berada di tahap pembiayaan awal (seed capital).

"Jadi anda sebagai founder, anda menggunakan uang anda sendiri untuk memulai bisnis tersebut, tujuannya adalah agar tidak memperbesar utang. Makanya dia pakai uang sendiri, simpanan sendiri, sehingga dia bisa fokus ke bisnis," tuturnya.

Pendanaan teman dan keluarga (friends and families) menjadi sumber kedua yang dapat dijajaki para pendiri startup. Bagi Haryanto, pendanaan di lingkaran kerabat memiliki nilai yang cukup besar, apabila dapat dimaksimalkan, kendati riskan apabila gagal bayar.

"Mungkin lebih mudah didapatkan, tapi sekali lagi anda kalau dapat uang dari teman, tapi lalu ga bayar, ini bisa-bisa pertemanannya bisa putus," ucapnya.

Selanjutnya adalah source dari angel investors, yang notabene merupakan 'crazy rich' dengan net-value jumbo yang ingin menanamkan modalnya terhadap perusahaan-perusahaan potensial.

Biasanya, mereka ingin mendapatkan persentase kepemilikan saham di perusahaan tersebut dengan harapan bisa ikut menikmati pertumbuhan tempat uangnya dikucurkan.

"Jadi biasanya mereka mensupport startup itu secara strategis melalui network mereka, sehingga bisa menjadi lebih besar," ujar Haryanto.

Kemudian adalah accelerator alias program-program yang dibuat baik oleh pemerintah maupun swasta untuk membina berbagai macam startup, sekaligus mendukung pertumbuhan mereka.

"Biasanya mereka (accelerator) juga memberikan funding pada saat di akhir program," ungkapnya.

Crowdfunding juga menjadi sumber pendanaan yang bisa dilakukan para pendiri startup. Haryanto mengatakan skema pendanaan ini bisa dilakukan dengan mengakumulasikan investor ritel dengan modal yang tipis, dengan berbagai macam skema.

"Jadi kerjaannya adalah ngumpulin uang, uangnya ga besar. Tapi jumlah investornya itu banyak sekali. Jadi tujuannya adalah ngumpulin dari berbagai sumber," bebernya.

Terakhir adalah venture capital, yakni perusahaan investasi yang memang fokus untuk menanamkan modalnya di berbagai macam usaha, termasuk startup. Dengan menyebar suntikan modal, para penanam modal ini mengharapkan portofolio investasi mereka dapat berkembang sekaligus tumbuh.

"VC ini memiliki risk appetite yang tinggi, mengapa, karena mereka dengan penuh kesadaran, menyadari bahwa startup ini memiliki uncertainty, bisa berhasil, bisa jackpot, bisa saja gagal. Tapi mereka memang seperti itu, dan mereka invesT di banyak sekali startup," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini