Share

Sri Mulyani Ungkap Ancaman Baru Ekonomi RI, Apa Itu Stagflasi?

Michelle Natalia, Jurnalis · Kamis 19 Mei 2022 12:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 19 320 2596637 sri-mulyani-ungkap-ancaman-baru-ekonomi-ri-apa-itu-stagflasi-KEAUEGfFGi.jpeg Sri Mulyani Uangkap Ancaman Baru Ekonomi RI. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merasa bersyukur karena kasus aktif Covid-19 mulai melandai. Kendati demikian, dia mengingatkan agar tidak terlena karena pandemi ini masih belum usai.

"Kita tidak boleh terlena, meski kasus menurun, masih ada risiko munculnya varian baru. Vaksinasi menjadi instrumen utama untuk transisi pandemi ke endemi," ujar Sri dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Kamis(19/5/2022).

Namun, kata Sri, telah muncul risiko baru, tekanan inflasi dan lonjakan harga komoditas, yang kemudian diperparah dengan adanya perang Rusia-Ukraina. Risiko tekanan inflasi, sudah muncul sejak tahun 2021, karena pemulihan ekonomi dunia tidak berjalan secara merata. Kecepatan dari pemulihan sisi demand jauh lebih cepat dibandingkan respon dari sisi supply.

Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Turun, Sri Mulyani Waspadai Naiknya Harga Komoditas

"Demand meningkat karena suku bunga menurun, likuiditas melimpah, fiscal policy-nya ekspansif, dan ini kemudian mendorong permintaan di berbagai negara, terutama dengan pandemi yang mulai bisa dikontrol. Namun, sisi supply tidak berjalan secepat permintaan tersebut," ungkap Sri.

Sambung dia menjelaskan, pent-up demand tiba-tiba meledak, sisi supply-nya tidak muncul, baik karena adanya beberapa daerah atau negara-negara produsen menghadapi Covid-19, maupun karena pemulihan sisi tenaga kerja maupun distribusi tidak berjalan secara cepat dibandingkan dengan pemulihan sisi demand.

Baca Juga: Tingkatkan Peluang Kerja Sama, Menko Airlangga Bertemu dengan Menkeu Singapura

"Sehingga, harga memang naik. Tadinya, para pembuat kebijakan terutama di sisi moneter menganggap inflasi ini temporer, temporernya karena demand cepat, supply-nya tertinggal sebentar. Namun diharapkan supply-nya akan segera mengejar. Makanya seluruh dunia kebijakan moneternya tertinggal, atau tidak merespon dengan langsung menaikkan suku bunga tahun lalu," papar Sri.

Namun, terjadinya perang di Ukraina menambah risiko terhadap pasokan energi dan pangan, dan terjadinya sanksi ekonomi menyebabkan disrupsi sisi supply itu menjadi tidak temporer tetapi justru permanen.

Dalam posisi supply yang stuck, tetapi demand-nya sudah naik tinggi, maka respon kebijakan moneter di 2022 berbagai negara cenderung menjadi lebih ketat dan cepat.

"Ini adalah perubahan luar biasa yang terjadi hanya dalam kurun waktu satu kuartal. Harganya naik tinggi sekali, dan kebijakan moneter merasa bahwa mereka harus mengejar ketertinggalan dengan mengendalikan sisi demand-nya. Berbeda dengan fiscal policy yang ditetapkannya tahunan," ungkapnya.

Inflasi tinggi di Amerika Serikat (AS) berpotensi mendorong kenaikan suku bunga acuan lebih tinggi. Secara historis, tekanan inflasi di AS direspon dengan kenaikan suku bunga acuan yang tinggi pula.

Bahkan, kemungkinan akan diikuti dengan kontraksi balance sheet the Fed yang akan menyebabkan pengetatan likuiditas lebih dalam lagi.

Dia menyebutkan, jika inflasi yang tinggi direspon dengan kebijakan moneter yang mengetat, maka kemungkinan kebijakan moneter ini akan menyebabkan penurunan dari pertumbuhan ekonomi, atau bahkan muncul resesi.

Maka dari itu, kombinasi resesi dan inflasi tinggi disebut sebagai stagflasi.

"Dari sisi pertumbuhannya stuck, tetapi dari inflasinya tinggi. Fenomena ini pernah terjadi di tahun 1980-an awal dan 1992 awal. Ini bukan fenomena yang mudah," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini