BALI - Perang Rusia-Ukraina telah mengganggu rantai pasok pangan. Ditambah lagi Rusia memblokade pengiriman pangan Laut Hitam menjadi penyebab krisis.
Untuk mengurangi dampak dari blokade Rusia, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyarankan negara-negara tidak menimbun stok pangan. Menurutnya, pelepasan stok pangan dibutuhkan sebagai langkah cepat agar bahan pangan bisa tersedia.
"Dalam jangka pendek, melepaskan stok (pangan) sesuai dan konsisten dengan aturan WTO, dan menemukan solusi diplomatik untuk mengevakuasi biji-bijian dan pupuk yang saat ini diblokir di Ukraina, akan membantu mengatasi ketersediaan dan keterjangkauan pasokan pangan," ujar Georgieva di Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/7/2022).
Menurutnya, kondisi rantai pasok yang terganggu sejak pandemi covid-19 diperparah oleh perang yang terjadi di Ukraina. Melansir data World Food Programme (WFP) per Juni 2022, jumlah orang yang mengalami krisis pangan meningkat menjadi 345 juta di 82 negara.
"Mereka mengalami rawan pangan akut, yang aksesnya ke untuk mendapat pangan dalam jangka pendek sangat terbatas hingga nyawa dan mata pencaharian mereka terancam, ini meningkat menjadi 345 juta di 82 negara menurut WFP," ungkapnya.
Dia mengatakan sebanyak 25 negara lainnya terdampak akibat pembatasan ekspor. Menurutnya, hal ini memperparah krisis pangan hingga dua kali lipatnya.
"Pasokan (pangan) global yang terus meningkat selama dekade terakhir perlu dilepaskan untuk menurunkan harga. Semua ini terjadi pada saat ruang fiskal untuk tindakan pemerintah sudah sangat dibatasi setelah pandemi Covid-19," tukas dia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.