Share

Pakai Pertalite Lebih Boros dari Sebelumnya, Ada Apa?

Rizky Fauzan, MNC Portal · Kamis 22 September 2022 08:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 22 320 2672439 pakai-pertalite-lebih-boros-dari-sebelumnya-ada-apa-1hnW7sb5wm.jpg BBM Pertalite Disebut Lebih Boros dari Sebelumnya. (Foto: Okezone.com/Pertamina)

JAKARTA - Banyak masyarakat merasa penggunaan BBM Pertalite sekarang lebih boros dibanding sebelumnya. Hal ini pun menjadi pertanyaan karena pengeluaran anggaran jadi bertambah khususnya setelah harga Pertalite dinaikkan.

Akademisi dari Kelompok Keahlian Konversi Energi Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri mengungkapkan, apabila pengguna BBM Pertamax beralih ke Pertalite, konsumsinya memang akan menjadi boros.

Alasannya, bilangan oktan atau Research Octane Number (RON) Pertalite (90) lebih rendah ketimbang Pertamax (92/98).

Baca Juga: Harga BBM Belum Turun, Erick Thohir: Minyak Masih di USD90/Barel

"Wajar ya kalau daya lebih rendah maka otomatis bahan bakar akan lebih boros," kata Zaenuri, Kamis (22/9/2022).

Beda kasus jika pengguna sebelumnya juga memakai Pertalite. Dari biasanya cukup untuk seminggu, misalnya, kini mungkin sekitar 3-4 hari.

“Mungkin secara komposisi kimia senyawanya di dalam BBM berubah sehingga nilai kalori bensin berubah,” katanya.

Baca Juga: Pemerintah Diminta Segera Terbitkan Revisi Perpres Pembatasan BBM Subsidi

Perubahan senyawa juga bisa mengakibatkan perubahan massa jenis ataudensitybensin. Jika ukuran bensin sama-sama satu liter, namun massa jenis berkurang dari 820 menjadi 770 gram, pemakaian bensin pasti akan jadi boros.

“Jadi begitud ensity berubah maka nilai kalori per liternya berubah,” kata Tri.

Karena itu, menurutnya, ada yang bilang kalau mengisi BBM jangan siang hari ketika panas terik, atau ketika BBM baru diisi di SPBU. Itu, kata dia terkait densitas yang berubah. Masalahnya, kata Tri, dalam spesifikasi minyak dan gas sebagai syarat boleh tidaknya bahan bakar dijual di Indonesia, tidak diperhitungkan soal nilai kalori.

“Karena itu tidak ada ketentuan nilai kalori dalam spesifikasi,” ujar dia.

Sebelumnya, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting menjelaskan, standar dan mutu Pertalite yang dipasarkan melalui lembaga penyalur resmi di Indonesia sesuai dengan Keputusan Dirjen Migas No. 0486.K/10/DJM.S/2017 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 90 Yang Dipasarkan Di Dalam Negeri.

"Batasan dalam spesifikasi Dirjen Migas yang menunjukkan tingkat penguapan pada suhu kamar di antaranya adalah parameter Reid Vapour Pressure (RVP). Saat ini hasil uji RVP dari Pertalite yang disalurkan dari terminal bahan bakar minyak (TBBM) Pertamina masih dalam batasan yang diizinkan, yaitu dalam rentang 45-69 kPa (Kilopascal), " kata Irto saat dihubungi MNC Portal, Kamis (22/9/2022).

Menurutnya, penguapan dapat berubah lebih cepat jika temperatur penyimpanan meningkat. Secara spesifikasi, batasan maksimum untuk penguapan (atau yang biasa dikenal dengan istilah destilasi) Pertalite adalah 10%, dibatasi maksimal 74 derajat Celsius.

"Secara umum produk Pertalite ada di suhu 50 derajat Celcius. Artinya, pada saat tempertur 50 derajat Celsius, Pertalite sudah bisa menguap hingga 10%. Semakin tinggi temperatur, maka akan semakin tinggi tingkat penguapan," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini