Share

Resesi 2023 Masih Prediksi tapi Kenapa Dampaknya Sudah Terasa?

Fayha Afanin Ramadhanti, Okezone · Senin 21 November 2022 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 21 320 2711743 resesi-2023-masih-prediksi-tapi-kenapa-dampaknya-sudah-terasa-zdO36nHg84.JPG Ilustrasi resesi. (Foto: Freepik)

JAKARTA โ€“ Ancaman resesi 2023 yang menghebohkan berbagai dunia tentu membuat masyarakat cemas.

Apalagi banyak sekali anak muda yang khawatir berlebihan, padahal mereka tidak punya pengalaman resesi.

Akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali menyebut banyak perusahaan yang gegabah melakukan PHK, menghentikan promosi, memberhentikan stok, tidak melakukan perbaikan pabrik, tidak berinovasi berinovasi, sampai tidak melakukan re-branding.

ย BACA JUGA:Ancaman Resesi Ekonomi? Yuk Mulai Disiplin untuk Menabung!

Dikutip Okezone Selasa (21/11/2022) dari kanal YouTube Rhenald Kasali, dia mengatakan bahwa hal ini merupakan dampak dari negativity bias.

Masyarakat cenderung berpikiran bahwa segala hal yang negatif lebih dipercaya untuk disebarluaskan.

โ€œDisini kita melihat adanya trust recession. Resesi yang disebabkan karena adanya kepercayaan akan terjadi resesi. Maka sebelum terjadi, Anda sudah mempercayaianya,โ€ katanya dalam video.

Baca Juga: 50 Tahun Berkarya, Indomie Konsisten Hidupkan Inspirasi Indomie untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Menurut Rhenald, trust recession juga terjadi karena adanya mistrust pada masyarakat.

โ€œYa Anda percaya sendiri sih bahwa resesi itu membuat Anda sulit, you are what you believe, Anda adalah apa yang Anda percaya. Karena Anda percaya Anda akan susah, ya sudah perilaku Anda akan susah,โ€ jelasnya.

Rhenald juga mengatakan bahwa resesi terdiri dua macam, yaitu economic recession seperti yang dialami Inggris dan Trust Recession seperti yang dipikirkan masyarakat.

Dia berpesan untuk jangan gegabah dan tetap bangun kepercayaan, baik akan atau tidak terjadi resesi. Jangan sampai perusahaan menghentikan investasi.

Contohnya seperti pabrik Sido Muncul yang lebih memilih untuk tetap membangun pabrik dibanding menyimpan uang di bank yang pada saat itu suku bunganya melejit dari 15% menjadi 72%.

โ€Ya mereka tidak dapat bunga 72%, tetapi beberapa tahun kemudian kita menyaksikan, ternyata perusahaan jamu yang lain semua sudah hilang. Mereka yang tidak investasi karena tiarap, karena istirahat, karena sayang dengan uangnya, akhirnya tidak kita lihat,โ€ pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini