JAKARTA - Mengenal apa itu "Green Inflation" yang ditanyakan oleh Gibran ke Mahfud MD. Adapun isu tersebut menjadi perhatian besar bagi beberapa negara termasuk Indonesia.
Sebab beberapa negara terdapat kekurangan pasokan minyak dan gas alam secara global dan adanya dorongan untuk mengganti komoditas-komoditas tersebut. Lantas apa itu " Green Inflation"?
Mengenal apa itu Green Inflation yang ditanyakan oleh Gibran ke Mahfud MD yakni mengacu pada kenaikan harga bahan mentah dan energi sebagai akibat dari transisi hijau.
Ungkapan “Green Inflation” mencerminkan pengertian bahwa kenaikan harga dapat bersifat jangka panjang, seiring dengan upaya negara-negara untuk memenuhi komitmen lingkungannya. Meningkatnya pengeluaran untuk teknologi bebas karbon menyebabkan kenaikan harga bahan-bahan yang strategis untuk infrastruktur tersebut.
Lalu intensifikasi peraturan lingkungan hidup yang membatasi investasi pada proyek pertambangan yang berpolusi tinggi juga membatasi pasokan bahan baku, yang juga mengakibatkan kenaikan harga. Oleh karena itu, transisi hijau menjadi lebih mahal karena penerapannya lebih luas.
Sementara itu, dalam simposium video "Inflasi Hijau" berlangsung dengan Profesor Dr. Michael Hüther, Direktur Institut Ekonomi Jerman di Cologne (IW), dan Profesor Dr. Bert Rürup , Kepala Ekonom di Handelsblatt mengatakan bahwa inflasi hijau terjadi karena penggabungan beberapa faktor, misalnya guncangan eksogen yang disebabkan oleh situasi geopolitik dan juga masalah rantai pasokan dan semikonduktor , akan mengakibatkan inflasi. Hal ini akan diperkuat oleh harga energi dan di masa depan didorong oleh harga CO2.
Inflasi hijau juga disebutkan bisa terjadi karena adanya upaya mereduksi penggunaan bahan bakar fosil dengan penetapan harga yang lebih mahal. Sehingga energi yang berbahan bakar fosil yang lebih mahal akan mengerek inflasi.
Berikut contoh kasus dari Green Inflation:
Beberapa komoditi ekspor seperti timah, nikel, bauksit hingga tembaga akan mengalami kenaikan yang signifikan karena permintaan tinggi. Harga logam seperti timah, aluminum, tembaga, nikel-kobalt telah meningkat hingga 91 persen tahun ini. Sedangkan, logam-logam ini digunakan dalam teknologi yang merupakan bagian dari transisi energi menuju energi terbarukan. Hal ini tentu akan meningkatkan biaya produksi sehingga untuk memberikan kompensasi, maka harga jadi dan proses transportasi akan dinaikan. Kegiatan ini tentu akan mempengaruhi inflasi global yang ditarget mencapai 2 persen per tahun yang merupakan nilai wajar.
(Rina Anggraeni)