JAKARTA - Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Nikel menjadi salah satu sumber daya yang membuat wilayah ini masuk dalam peta industri nasional.
Akan tetapi, di balik aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel, ada cerita lain di daerah tersebut yaitu Desa Kawasi. Di mana bukan tentang seberapa banyak bijih nikel yang ditambang atau seberapa besar kapasitas fasilitas pengolahannya. Namun ini tentang rumah.
Tentang tempat di mana warga menjalani kehidupan sehari-hari. Tentang bagaimana sebuah permukiman dibangun untuk menghadirkan standar hidup yang berbeda bagi masyarakat Desa Kawasi.
Di kawasan baru tersebut 259 unit rumah permanen berdiri. Permukiman tersebut dibangun di atas lahan seluas 103 ha dan menjadi bagian dari inisiatif pemerintah daerah yang mendapat dukungan Harita Nickel.
Ada empat tipe rumah tersedia, mulai dari tipe 36, 54, 72 hingga 108 meter persegi. Luas lahan bervariasi antara 360 hingga 442 meter persegi.
Bukan sekadar rumah, kawasan ini dirancang sebagai sebuah lingkungan tempat tinggal yang memiliki fasilitas dasar dan penunjang kehidupan masyarakat.
Listrik dan air tersedia selama 24 jam. Jalan beton membentang di kawasan permukiman, dilengkapi drainase, sanitasi, serta sistem pengelolaan sampah.
Pada kawasan tersebut juga tersedia fasilitas kesehatan, sekolah, rumah ibadah, gedung serba guna, pusat olahraga hingga area komersial.
Di mana salah satu perubahan yang paling terasa adalah tersedianya fasilitas kesehatan yang lebih dekat. Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan bersama Harita Nickel membangun Puskesmas Pembantu atau Pustu Kawasi.
Fasilitas yang dibangun pada 2020 tersebut mulai resmi beroperasi pada 2024. Kehadirannya ditujukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau dan memadai.
Layanan yang tersedia cukup beragam. Mulai dari pelayanan umum dan konsultasi dokter, penanganan balita sakit, kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, tindakan medis darurat hingga pelayanan farmasi.
Bagi ibu hamil, Pustu Kawasi juga menyediakan fasilitas ultrasonografi atau USG untuk memantau perkembangan janin.
Dengan adanya fasilitas tersebut, layanan kesehatan kini menjadi bagian dari ekosistem permukiman, bukan sesuatu yang harus dipandang sebagai fasilitas yang jauh dari rumah.
“Jadi fasilitasnya sudah hampir setara sama di Puskesmas. Di sini sudah ada dokter. Apabila untuk pemeriksaan darah memang masih sebatas gula, asam urat, tapi sudah ada pemeriksaan USG,” ujar Dokter Jaga Pustu Kawasi, dr Fitri Istikasari, kepada Okezone.com, Senin 31 Agustus 2026.
Hal serupa terlihat di sektor pendidikan. Di kawasan permukiman baru telah tersedia fasilitas sekolah mulai tingkat SD, SMP hingga SMA.
Artinya, kawasan baru Desa Kawasi tidak hanya dirancang untuk menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi keluarga dan generasi berikutnya.
Pada permukiman Baru Desa Kawasi, air baku berasal dari Sungai Akelamo. Air tersebut kemudian diolah melalui Water Purification Plant atau WPP sebelum didistribusikan ke rumah-rumah warga.
Prosesnya berlangsung bertahap. Air baku terlebih dahulu melalui fasilitas water intake untuk menghilangkan partikel halus.
Setelah itu, air menjalani proses pengolahan di WPP, termasuk proses pengendapan partikel dan desinfeksi sebelum masuk ke jaringan distribusi.
Dari fasilitas tersebut, WPP memasok sekitar 42.000 meter kubik air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga Permukiman Baru Desa Kawasi.
Kualitas air juga dipantau secara berkala, mulai dari sumber air, selama proses pengolahan hingga titik distribusi. Pengujian dilakukan oleh tim internal dan diverifikasi oleh laboratorium eksternal yang telah terakreditasi.
Air bersih yang mengalir ke permukiman menjadi salah satu gambaran sederhana tentang bagaimana pembangunan sebuah kawasan tidak berhenti pada penyediaan bangunan rumah.
Ada sistem yang harus bekerja di belakangnya. Ada sumber air yang harus dikelola. Ada proses pengolahan. Dan ada jaringan distribusi yang memastikan kebutuhan sehari-hari masyarakat dapat terpenuhi.
Permukiman baru juga dirancang agar masyarakat memiliki ruang untuk mengembangkan aktivitas ekonomi. Tak jauh dari kawasan tersebut terdapat Salam Kawasi, singkatan dari Bersama Belajar Pada Alam Kawasi, yang menjadi pusat pembelajaran pertanian terpadu.
Di lokasi ini terdapat area demonstration plot yang digunakan untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman, mulai dari sawi, cabai rawit, terong dan kangkung hingga buah-buahan seperti pepaya California, nanas dan Golden Melon.
Ada pula kolam ikan air tawar, rumah kompos dan area peternakan kambing. Konsepnya bukan sekadar menanam untuk konsumsi.
Kelompok tani yang mendapat pendampingan dari Tim Salam Kawasi juga menghasilkan produk pertanian yang di antaranya digunakan untuk mendukung kebutuhan makanan karyawan di area operasional Obi.
Di sisi lain, kawasan perekonomian Desa Kawasi terbagi menjadi 13 blok dengan 210 kos. Kawasan tersebut menjadi bagian dari ekosistem ekonomi di sekitar permukiman. Ada pula Pelabuhan Komersial Panji Baru yang menjadi bagian dari konektivitas kawasan.
Dengan berbagai fasilitas tersebut, permukiman baru diarahkan bukan hanya sebagai tempat masyarakat menetap, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun aktivitas ekonomi.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.