Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

3 Skenario Gerak IHSG Pasca Anjlok dan Isu MSCI

Anggie Ariesta , Jurnalis-Senin, 19 Oktober 2026 |08:03 WIB
3 Skenario Gerak IHSG Pasca Anjlok dan Isu MSCI
IHSG Pekan Ini (Foto: Okezone)
A
A
A

Skenario ini dapat terealisasi dengan catatan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu menyampaikan klarifikasi yang meyakinkan kepada pihak MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) konsisten melanjutkan agenda reformasi pasar modal, serta pergerakan harga minyak dunia berangsur stabil.

Di sisi lain, skenario pesimis membayangi jika tekanan jual berlanjut hingga mendorong IHSG menembus batas pendukung (support) psikologis 5.000 menuju kisaran 4.950 hingga 5.000. 

Risiko penurunan tajam ini dipicu oleh potensi terealisasinya gelombang arus modal keluar (outflow) akibat sentimen negatif MSCI, yang diperparah oleh eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz hingga memicu pelemahan nilai tukar Rupiah melampaui level Rp18.100 per dolar AS.

“Pada skenario ini, aset defensif seperti emas dan cash menjadi pilihan. Adapun level penting yang wajib diperhatikan yakni Support 5.180, 5.000, 4.850 dan Resistance 5.350-5.404, 5.600, 5.864,” tegas Ardy.

Sebelumnya, IHSG selama sepekan terakhir terkoreksi tajam sebesar 14,91 persen atau berkurang 908,65 poin hingga terdampar di level 5.185,11 dari posisi 6.093,76 pada pekan sebelumnya. 

Laju pelemahan memuncak pada Jumat pekan lalu dengan merosot 11,57 persen, menjadi penurunan harian terburuk sejak krisis 1998 sekaligus mencetak rekor terendah baru tahun ini.

Bursa Efek Indonesia bahkan sempat memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit begitu perdagangan Jumat dibuka akibat koreksi langsung menyentuh 8,01 persen. 

Seluruh sektor saham berakhir di zona merah, dipimpin sektor barang baku yang terpangkas 13,37 persen, kesehatan 13,16 persen, dan infrastruktur 13,00 persen, serta indeks LQ45 yang merosot 13,82 persen ke posisi 508,56.

"Investor asing mencatatkan net sell Rp2,92 triliun di sesi I yang dipimpin BBCA Rp1,98 triliun, BBRI Rp631 miliar, BMRI Rp485 miliar. Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp3,34 triliun dan YTD Rp88,19 triliun," tegas Ardy.

Ardy menjelaskan bahwa gejolak pasar dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, pemicu utama berasal dari pengumuman MSCI yang membuka periode konsultasi atas proposal reklasifikasi status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market hingga 30 April 2027. 

MSCI menyoroti isu transparansi struktur kepemilikan, dugaan transaksi terkoordinasi, dan konsistensi reformasi pasar modal.

Di sisi lain, OJK berkomitmen memperketat pengawasan dengan menjatuhkan sanksi denda Rp2,1 triliun kepada pihak terkait transaksi saham DSSA, BREN, dan CUAN, serta total sanksi lebih dari Rp390 miliar kepada 835 pihak sejak awal tahun 2026. 

BEI juga tengah menyiapkan klarifikasi resmi, sementara BUMN pengelola investasi Danantara menyatakan kesiapan melakukan akumulasi pada saham berfundamental kuat.

Dari ranah global, kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi AS (CPI 3,7 persen yoy dan PPI 6,3 persen yoy) memperkuat ekspektasi suku bunga acuan The Fed bertahan tinggi lebih lama (higher for longer). 

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah Brent menyentuh 110 dolar AS per barel seiring gangguan jalur distribusi energi di Selat Hormuz, yang berpotensi memicu tekanan inflasi serta depresiasi nilai tukar Rupiah.

Berikut rekomendasi IPOT untuk pekan ini.
1. Buy BBCA (Entry: >5.950, Target 6.225, Stop Loss <5.850).
2. Buy ASII (Entry: >4.490, Target 5.200, Stop Loss <4.470).
3. Buy EMAS (Entry: >7.620, Target 8.500, Stop Loss <7.400).
4. Buy Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD)

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement