Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal MSCI, Fungsi dan Dampaknya bagi Pasar Saham Indonesia

Niken Wulandari , Jurnalis-Selasa, 20 Oktober 2026 |15:56 WIB
Mengenal MSCI, Fungsi dan Dampaknya bagi Pasar Saham Indonesia
Mengenal MSCI, Fungsi dan Dampaknya bagi Pasar Saham Indonesia (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Mengenal MSCI, fungsi dan dampaknya bagi pasar saham Indonesia. MSCI menjadi perhatian pelaku pasar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menurun dalam beberapa hari terakhir. 

IHSG anjlok lebih dari 11 persen pada Jumat (16/10/2026) setelah MSCI membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pada Senin (19/10/2026), IHSG ditutup melemah 3,64 persen ke level 4.996,61. Memasuki Selasa (20/10/2026), indeks dibuka melemah 0,33 persen ke level 4.980, lalu sempat berbalik menguat. Kini IHSG kembali bergerak menguat ke level 5.200.

Lantas, apa sebenarnya MSCI dan mengapa keputusannya begitu berpengaruh bagi pasar saham Indonesia? Berikut ini ulasannya seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

1. Apa Itu MSCI?

MSCI adalah singkatan dari Morgan Stanley Capital International. MSCI adalah perusahaan keuangan global penyedia indeks pasar saham, data analitik, dan perangkat pengukuran risiko investasi yang berkantor pusat di New York City, Amerika Serikat (AS).

Perusahaan berbasis Amerika Serikat ini menyediakan alat pendukung keputusan investasi global, mulai dari indeks saham, analisis risiko, hingga tata kelola perusahaan (ESG). Awalnya, Capital International merilis indeks pasar modal dunia untuk wilayah di luar Amerika Serikat pada 1968. Morgan Stanley kemudian membeli hak lisensi data tersebut pada 1986 dan membentuk MSCI. Pada 2007, perusahaan ini mulai menjual sahamnya kepada publik, lalu resmi berdiri sendiri pada 2009. 

Beberapa indeks MSCI yang dikenal luas adalah MSCI Global Standard Index, MSCI Global Small Cap Index, dan MSCI Emerging Markets Index. Untuk Indonesia, ada MSCI Indonesia. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks ini mencakup saham yang memenuhi kriteria tertentu, seperti kapitalisasi pasar, likuiditas, dan akses bagi investor asing.

Selain menyusun indeks, MSCI menilai pasar saham setiap negara setiap tahun. Menurut MSCI, hasil penilaian itu menempatkan sebuah pasar ke dalam salah satu dari empat kategori, yaitu Developed Market (pasar maju), Emerging Market (pasar berkembang), Frontier Market (pasar perintis) dan Standalone Market (pasar mandiri). Penilaian itu memakai tiga kriteria yakni perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas pasar, serta kemudahan akses pasar bagi investor.

 

2. Fungsi MSCI

Fungsi utama MSCI adalah menjadi tolok ukur (benchmark) investasi global. Manajer investasi memakai indeks MSCI untuk menilai apakah kinerja portofolio mereka lebih baik atau lebih buruk daripada rata-rata pasar. Investor institusi pun menjadikannya acuan dalam menentukan alokasi investasi.

Indeks MSCI juga menjadi dasar produk investasi. Banyak reksa dana dan exchange traded fund (ETF) dirancang mengikuti komposisi saham dalam indeks tersebut. Karena itu, saham yang masuk indeks biasanya dibeli oleh dana yang mengacu pada indeks tersebut.

Selain itu, MSCI membantu investor membandingkan kinerja pasar saham antarnegara dengan standar klasifikasi yang seragam. Negara dengan bobot besar dalam indeks MSCI juga berpotensi menerima aliran dana asing yang lebih besar.

3. Dampak MSCI bagi Pasar Saham Indonesia

- Arus Dana Asing dan Harga Saham

Keputusan MSCI mempengaruhi pasar saham terutama lewat arus dana asing. Ketika saham masuk indeks, investor asing yang mengikuti indeks tersebut biasanya membeli saham itu. Akibatnya, volume transaksi, harga, dan likuiditas dapat meningkat. Sebaliknya, saham yang dikeluarkan berpotensi mengalami tekanan jual. Fenomena ini dikenal sebagai MSCI effect.

Hal serupa berlaku ketika klasifikasi pasar sebuah negara berubah. Jika pasar diturunkan ke kelompok di luar indeks utama seperti MSCI Emerging Markets, saham-sahamnya tidak lagi menjadi bagian indeks tersebut, sehingga dana asing berisiko keluar.

- Kredibilitas Emiten dan Pengaruh terhadap IHSG

Saham yang masuk indeks MSCI dinilai memenuhi kriteria ketat soal likuiditas, free float, dan tata kelola. Kondisi ini membuat emiten lebih mudah dilirik investor global. Di Indonesia, saham berkapitalisasi besar yang masuk MSCI umumnya juga berbobot besar di BEI, sehingga pergerakannya mempengaruhi IHSG.

Menurut BEI, perubahan bobot, penambahan, atau penghentian rebalancing saham dalam indeks MSCI berpotensi menimbulkan volatilitas dan tekanan pada pasar modal. Pada Senin (27/10/2025), misalnya, IHSG sempat amblas hampir 4 persen ketika muncul rencana MSCI menyesuaikan perhitungan free float.

Saat ini, Indonesia masih berstatus Emerging Market di MSCI. Namun, usulan penurunan status menjadi Standalone Market masih dalam tahap konsultasi hingga 30 April 2027, dengan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027. 

Dengan begitu, mengenal MSCI menjadi bekal penting bagi investor maupun calon investor dalam menyikapi setiap perubahan yang berdampak pada pasar saham Indonesia.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement