Sementara itu, perusahaan dengan likuiditas terbatas, tata kelola yang lebih lemah, atau profil kredit mandiri yang kurang kuat dinilai lebih rentan terhadap gejolak pasar. Koreksi harga saham yang berkelanjutan juga dapat menurunkan rasio pinjaman terhadap nilai agunan (loan-to-value/LTV) pada kredit yang dijamin dengan saham, sehingga memicu permintaan tambahan agunan dari kreditur.
Fitch juga menyoroti potensi dampak kenaikan biaya pendanaan terhadap sektor energi dan utilitas. Biaya pembiayaan yang lebih tinggi dapat menunda proyek energi terbarukan yang membutuhkan investasi awal dalam jumlah besar, terutama proyek dengan tingkat keekonomian terbatas.
Dengan demikian, Fitch menilai potensi reklasifikasi MSCI bukan satu-satunya faktor penentu risiko kredit Indonesia. Keberlanjutan arus modal, kecukupan cadangan devisa, kondisi pendanaan, dan respons kebijakan akan menentukan sejauh mana tekanan pasar saham merambat ke profil kredit negara dan sektor usaha.
Catatan penting sebelum tayang: Saya baru menyunting bahasa dan struktur, belum memverifikasi kebenaran faktanya. Pastikan kembali tanggal laporan Fitch, perubahan outlook pada 4 Maret 2026, kenaikan suku bunga BI sebesar 100 basis poin, serta angka cadangan devisa dan posisi devisa neto jangka pendek. Angka-angka tersebut material bagi inti berita dan perlu dicocokkan dengan laporan sumber aslinya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.