JAKARTA - Tidak hanya indeks saham saja yang masih dalam posisi tertekan sentimen eksternal, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan atas dolar Amerika. Tekanan ini akibat optimisme recovery perekonomian di AS.
"Rupiah secara umum sedang tertekan, karena faktor eksternal munculnya optimisme ekonomi AS," kata kepala ekonom BNI Tony Prasetiantono kepada okezone, di Jakarta, Senin (7/9/2009).
Dia melanjutkan, Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke yang dipercaya lagi oleh Presiden Obama menyatakan, optimismenya terhadap perekonomian Negeri Paman Sam Tersebut. Yakni, terutama didasarkan pada penurunan angka pengangguran. Sementara itu penjualan mobil-juga mulai membaik. "Ini yang menyebabkan dolar Amerika menguat, atau sebaliknya rupiah melemah," katanya.
Meski demikian, dia berpendapat sebenarnya "mood" rupiah juga sedang baik, karena secara umum fundamental ekonomi Indonesia sedang baik. "Berdasarkan tarik menarik ini, saya duga besok rupiah masih akan bergerak tipis di sekitar Rp10.100-10.130," jelasnya.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, rupiah ditutup melemah dengan pergerakan terbatas. Permintaan dolar masih tinggi namun Bank Indonesia (BI) sudah menyatakan komitmennya untuk menjaga rupiah.
Nilai tukar perdagangan pada Jumat (4/9/2009) ditutup di level Rp10.100- Rp10.150 per USD atau menguat tipis dibanding perdagangan sebelumnya level Rp10.120-Rp10.150 per USD.
(Rani Hardjanti)