JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menargetkan pencapaian pertumbuhan aset di tahun ini sebesar Rp200 triliun. Nilai tersebut naik 14,3 persen dari total pencapaian aset di akhir 2009 sebesar Rp175 triliun.
"Optimisme tersebut dilakukan karena perusahaan pembiayaan di Indonesia melihat ada perbaikan perekonomian baik dari daya beli masyarakat yang meningkat dan suku bunga yang sudah mulai turun," jelas Ketua APPI Wiwie Kurnia, di kantor APPI Gedung Plaza Sentral Jakarta, Selasa (26/1/2010).
Target aset tersebut masih dikontribusikan dari consumer finance (70 persen). Sisanya dibagi merata di sektor pembiayaan yang fokus ke leasing, anjak piutang, dan kartu kredit.
Sementara perusahaan pembiayaan yang fokus ke consumer finance juga merata mengontribusikan dari sektor penjualan motor (35 persen) dan penjualan mobil (35 persen).
"Target aset kami memang selalu menunjukkan tren kenaikan tiap tahun. Sebenarnya target awal kami hanya Rp150 triliun hingga akhir tahun kemarin. Namun karena perbaikan ekonomi, target tersebut tembus hingga Rp175 triliun. Mudah-mudahan bisa tembus hingga Rp200 triliun di tahun ini," tambah Wiwie.
Meski perjalanan usaha pembiayaan mulus, di tahun ini bakal ada kendala. Di antaranya pada semester I tahun ini diperkirakan ada gejolak ekonomi. Seperti kenaikan harga minyak yang menyebabkan kenaikan inflasi sehingga mengurangi daya beli masyarakat.
Apalagi, kata Wiwie, jika terjadi krisis keuangan di negara lain yang turut mempengaruhi keuangan dalam negeri, misalnya krisis keuangan di Amerika Serikat pada 2008 yang juga menjadi krisis global.
"Atau bisa jadi krisis politik lokal maupun internasional. Terlebih jika kasus Bank Century ini merembet ke kasus politik dan mempengaruhi kondisi perekonomian. Itu sangat meresahkan kami," lanjut Wiwie.
Ke depan, APPI ingin terus menggenjot aset dengan cara mengusulkan ke regulator agar memperluas ijin usaha perusahaan pembiayaan. Selama ini, perusahaan pembiayaan hanya fokus di consumer finance, leasing, anjak piutang dan kartu kredit. Untuk dua segmen terakhir (anjak piutang dan kartu kredit), kontribusi ke aset sangat kecil, kurang dari lima persen.
Sehingga, lanjut Wiwie, perusahaan pembiayaan bisa merambah ke penarikan dana pihak ketiga (DPK) seperti perbankan, masuk ke jenis usaha lainnya seperti mikro financing, pegadaian atau refinancing.
"Kami sudah memiliki sekira 2.000 cabang hingga di pelosok daerah. Sehingga peluang kami untuk menawarkan jasa keuangan ke masyarakat pelosok makin besar. Kami tidak takut bersaing dengan bank umum atau BPR. Bagaimanapun masyarakat akan bisa memilih, mana perusahaan pembiayaan yang paling menarik baginya," pungkasnya.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.