Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Cerita dari Kampung Cijengkol (1)

"Sesuatu Banget Yeuuh"

Rani Hardjanti , Jurnalis-Senin, 12 Desember 2011 |10:21 WIB
Yeuuh"" />
Para Ibu menghadiri Rembuk Pusat Koperasi KUM. (Foto : Okezone)
A
A
A

BOGOR - Dari kejauhan, terdengar riuh rendah sekelompok ibu-ibu di Desa Cidokom, Kampung Cijengkol, Kecamatan Rumpin, Bogor.

Mereka duduk lesehan melingkar, beralaskan tikar, di teras sebuah rumah yang sangat sederhana. Atapnya agak keropos dimakan rayap. Jendela rumahnya pun ada yang ditambal potongan kayu.

Jam menunjukkan sekira pukul 09.40 WIB. Cuaca kala itu sangat terik, namun tidak menyurutkan semangat para ibu untuk setia duduk berdesakan.

Para ibu tampak sangat akrab, dan santai sambil berkelakar satu dengan lainnya. Di tengah-tengah mereka ada seorang pria mengenakan baju muslim koko, dipadu celana panjang berwarna hitam.

"Hayuk ibu-ibu, urang dimulai," ujar pria yang kemudian diketahui bernama Dedy.

Dia berbicara kental dalam dialek Sunda. Pria berusia 30-an itu mengajak para ibu agar memulai pertemuan tersebut.

Kemudian salah satu ibu, Pida (31), membuka pertemuan membacakan ikrar. Ibu empat anak itu terlihat serius memimpin ritual pertemuan mingguan tersebut.

"Adalah menjadi tanggung jawab kami untuk berusaha menambah rejeki. Membantu anggota kumpulan, dan rembuk pusat, apabila mereka kesulitan. Menggunakan pinjaman dari KUM untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Mendorong anak-anak untuk bersekolah. Dan membayar kembali pinjaman setiap minggu," ucap Pida yang juga kental dengan dialek Sunda, yang diikuti oleh para peserta.

Mereka bukanlah pengikut aliran, agen asuransi, atau multilevel marketing, melainkan peserta Koperasi Karya Usaha Mandiri (KUM), sebagai replika Grameen Bank (bank pedesaan).

Lalu Pida, sang pemimpin perwakilan anggota rembuk pusat, menyetorkan sejumlah dana kelompoknya sekira Rp619 ribu kepada Dedy. Dedy langsung sibuk mencatat di buku tabungan, dan pembayaran kredit usaha milik anggota satu per satu. Deddy pun mengeluarkan kalkulator dari tasnya, dan menghitung uang dengan kalkulator.

Usaha para anggota rata-rata adalah berdagang, dan berkebun. Jangan dibayangkan mereka adalah pengusaha di toko. Sebab, KUM menyasar kepada seorang ibu rumah tangga atau janda, yang ingin memajukan ekonomi keluarga dan membantu pekerjaan suami.

"Ada yang jual bakso, gorengan, roti, jualan di pasar, ada yang nanem bayem, kangkung, banyak macamnya," jelas Pida.

Mereka mendapat kucuran kredit KUM mulai dari Rp500 ribu, Rp1 juta, dan Rp1,5 juta.

Pada pinjaman Rp500 ribu, nasabah diwajibkan membayar cicilan selama 25 minggu, dengan skema cicilan pokok Rp22 ribu dan jasa pelayanan Rp3.000. Anggota KUM juga wajib menabung Rp2.000 per minggu.

Pinjaman itu bisa didapat secara berjenjang. Tahap awal pencairan pinjaman senilai Rp500 ribu. Jika sudah lunas mereka boleh meminjam dengan nilai yang lebih besar, yakni Rp 1 juta dan Rp1,5 juta.

Untuk cicilan Rp1 juta dicicil selama 50 minggu, dengan skema cicilan pokok Rp20 ribu  dan jasa pelayanan Rp3.000 dan kewajiban menabung Rp2.000.

"Dengan adanya pinjaman ini, saya jualan sayur-mayur di pasar. Yah, ini sangat membantu bagi keluarga. Keuntungannya buat anak-anak saya, biar pada sekolah," cerita Pida.

Mekanisme pinjaman seperti ini merupakan replika Grameen Bank ciptaan Muhammad Yusuf yang diterapkan di Bangladesh. Grameen Bank pun meraih penghargaan The Nobel Peace Prize pada 2006, karena terbukti mampu meningkatkan tingkat kesejahteraan kaum papa di pedesaan.

Begitu juga Koperasi KUM. Dengan mengadopsi sistem Grameen Bank yang disesuaikan dengan kultur desa terpencil di Leuwiliang, semangat pengurus koperasi ingin memajukan tingkat kesejahteraan anggota.

Jika di Bangladesh disebut weekly meeting, pertemuan di Desa Cidokom itu disebut rembuk pusat. Di mana para peserta bertemu satu minggu sekali di hari Jumat, guna menabung dan membayar cicilan utang usaha.

Sementara di Bangladesh tidak ada pembacaan ikrar, melainkan melakukan ritual hormat layaknya upacara pada umumnya. Pertemuan rembuk pusat di Bangladesh juga tidak semeriah ibu-ibu Desa Cidokom.

"Kami senang sekali bisa berkumpul satu minggu sekali sama ibu-ibu. Jadi kami di rumah enggak pusing ngurusin ini itu. Walaupun sampai di rumah pusing lagi. Pokokna mah rembuk pusat sesuatu banget yeuh," ujar salah satu ibu  mengikuti ikon artis Syahrini, yang langsung disambut gelak tawa para anggota.

"Pokokna, kalau hari Jumat kami teh tidak berdagang pagi, tatapi siang. Betul tidak ibu-ibu?" ujar salah satu anggota, sementara para anggota manggut-manggut.

Tapi pertemuan itu bisa molor karena ada salah satu anggota yang kerap datang terlambat. Okezone pun bertanya, siapa yang sering telat? "Saya teh. Saya berdagang dulu di pasar, baru kamari," ujar seorang ibu bernama Nana (40an).

Ibu-ibu pun tertawa lepas. Sebab ketika ibu Nana tertawa, giginya ternyata ompong menyisakan satu gigi seri pada gusi bawah. "Dia mah bandel," saut anggota lainnya.

Sembari para ibu bersenda gurau dan membahas persoalan usaha yang dihadapi, Dedy sibuk mencatat pembukuan. Begitu Dedy menyelesaikan tugasnya, dia pun kembali memberi tahu Pida untuk menutup rembuk pusat. "Geus Bu Pida. Geus selesai. Ditutup wae rembuk pusatna," ujar Dedy sembari mengembalikan buku tabungan warga.

Namun tiba-tiba ada seorang nenek yang berteriak, "Kang Dedy, pinjamannya ditambah atuh. Modal bertambah, keuntungannya juga bertambah," ujar nenek yang baru saja menikahkan anak terakhirnya.

"Lunasin dulu atuh kreditna. Jangan sampai nanti malah tidak bisa bayar," jawab Dedy.

Ikrar pun kembali dibacakan dan diikuti oleh anggota Koperasi KUM dan ditutup dengan pengucapan janji, "Allah menjadi saksi segala apa yang kami ucapkan dan kami lakukan."

Mereka adalah para ibu-ibu yang memiliki semangat untuk mengubah kesejahteraan keluarga dan menyekolahkan anaknya. Mereka adalah warga yang tidak terjamah bank konvensional, karena tidak memiliki harta yang digunakan sebagai penjamin pinjaman.

Para ibu-ibu pun membubarkan diri. Mereka tampak ceria dan kembali melakukan rutinitas kerjanya masing-masing.

Sementara Dedy, bergegas menaiki motornya untuk berpindah ke desa lain. Para ibu-ibu di desa lainnya sudah menunggu untuk menabungkan keuntungan usahanya.

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement