Permintaan Minim, Emiten Obral Harga IPO

Rabu, 14 Desember 2011 08:54 wib
Ilustrasi. Corbis.
Ilustrasi. Corbis.
JAKARTA– Sejumlah emiten yang melakukan proses penawaran saham umum perdana (initial public offering/IPO) di akhir tahun ini memberikan harga yang cukup rendah.

Bahkan, banyak di antaranya mengambil harga terbawah dari kisaran harga yang ditetapkan. Beberapa di antaranya adalah PT Saranacentral Bajatama yang menetapkan harga Rp250 dari kisaran Rp250–400, PT Erajaya Swasembada yang menetapkan harga perdana Rp1.000 dari kisaran Rp1.000–1.440.

Lalu, PT Atlas Resources yang menetapkan harga Rp1.500 dari Rp1.500–1.900 atau pun PT Cardig Aero Services yang ditetapkan pada harga Rp400 dari kisaran Rp350–590. Sementara, PT Greenwood Sejahtera bahkan menetapkan harga sebesar Rp250, padahal kisaran yang ditetapkan sebelumnya adalah Rp275–325. Permintaan yang rendah menjadi penyebab harga diberikan pada level termurah.

”Kalau harga ditetapkan pada level terbawah dari kisaran yang ditetapkan, artinya memang permintaan rendah. Itu memang tidak lepas dari kondisi pasar yang memang kurang bagus saat ini,” ujar Pengamat Pasar Edwin Sinaga di Jakarta, kemarin.
Kondisi pasar yang fluktuatif, lanjut dia, membuat investor cenderung selektif dalam mengambil portofolio investasi. Itu membuat investor melihat prospek saham perdana yang ditawarkan.

Berapa besar potensi kenaikan saham tersebut setelah dilepas di pasar sekunder nantinya.Tentu, penyerapan jauh lebih besar jika harga yang diberikan lebih murah. Sesuai hukum pasar, tentu harga termurah akan muncul jika permintaan hanya sedikit.
”Jika banyak yang meminati, otomatis harga akan diberikan lebih besar. Biasanya, penjamin emisi sudah memperhitungkan kisaran harga yang ditawarkan. Meski harga terbawah yang diambil, IPO sudah sesuai harapan,” kata pria yang menjabat sebagai Direktur Utama PT Financorpindo Nusa itu.

Walaupun harga saham sudah diberikan pada level termurah, permintaan terlihat tidak terlalu tinggi.

Seperti saham Saranacentral Bajatama yang hanya mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) sebesar 1,2 kali dan Cardig Aero Services yang hanya mengalami kelebihan permintaan 1,5 kali.Ada juga Atlas Resources yang mengalami kelebihan permintaan 2,5 kali dan Erajaya Swasembada sebanyak 2,2 kali.

Sedangkan Greenwood, penjamin emisi belum mau menyampaikan berapa besar permintaan yang diterima. Direktur Utama PT HD Capital Anthony Kristianto,selaku penjamin emisi menyebutkan, penyerapan saham perdana perusahaan yang bergerak di sektor properti itu cukup baik, terutama dengan adanya strategic investor yang telah memastikan mengambil bagian dari saham perdana yang dilepas.Penetapan harga Rp250 yang berada di bawah kisaran dikarenakan permintaan dari investor.

”Ada permintaan dari strategic partneryang meminta harga saham tersebut. Investor mempertimbangkan volatilitas bursa saham,” kata Anthony.

Menurut Edwin Sinaga, penetapan harga di level bawah itu juga memberikan risiko yang lebih rendah penjamin emisi, terhadap tidak optimalnya penyerapan saat penawaran. Sebab, jika dipaksakan mengejar nilai emisi yang tinggi, penyerapan bisa berlangsung tidak optimal.

Pengamat Pasar Modal Yanuar Rizki menilai, selain masalah permintaan dan valuasi serta prospek saham, kepintaran penjamin emisi dalam menerapkan strategi IPO turut berpengaruh. Sebab, persoalan demand bisa diciptakan dengan menerapkan strategi tertentu. Sementara, total emisi tahun ini diperkirakan mencapai Rp19,19 triliun yang berasal dari 24 emiten yang melakukan IPO.

Nilai emisi tersebut bisa bertambah jika proses IPO dan listing PT Greenwood Sejahtera bisa terlaksana tahun ini.Tambahan dari Greenwood mencapai Rp834,5 miliar, yang artinya total emisi IPO bisa menjadi Rp20,024 triliun dari 25 emiten IPO. Namun, nilai tersebut masih berada di bawah nilai emisi perdana tahun lalu yang mencapai Rp29,68 triliun dari 23 emiten IPO. (Juni Triyanto)
(mrt) (Koran SI/Koran SI/rhs)
TWITTER »
twit