Ilustrasi. Corbis.
JAKARTA - Langkah Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) dinilai sebagai langkah untuk meyakinkan para investor akan prudent-nya kondisi perekonomian Indonesia.
Komisaris Independen Bank Permata Tony Prasetiantono menilai BI sedang berusaha meyakinkan pasar bahwa inflasi aman, sehingga BI rate diturunkan jadi 5,75 persen.
"Namun tampaknya juga sulit menghindari bahwa sebentar lagi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif listrik pasti naik, justru karena inflasi rendah, serta APBN sudah terlalu berat memberi subsidi," ungkapnya kepada okezone melalui pesan singkatnya di Jakarta, Kamis (9/2/2012).
Dia menuturkan, kerawanan likuiditas sebenarnya masih terjadi. "Meski belakangan ini tekanan masalah zona euro mereda, namun pada 20 Maret nanti akan ada utang Yunani yang jatuh tempo cukup besar," tambah dia.
Menurutnya, jika memang hal tersebut terjadi, maka rawan menimbulkan guncangan, akibatnya nilai tukar Euro dapat melemah, dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan rupiah melemah.
"Shock juga sewaktu-waktu bisa terjadi pada Spanyol yang penganggurannya meledak hingga 23 persen. Ini bisa menyebabkan rupiah volatile," tutur dia. (mrt) (rhs)