SETELAH melalui level psikologis angka bulat besar, seperti terakhir ini di 4.600, selalu mendorong pelaku pasar berefleksi, apakah posisi saat ini sudah dekat dengan titik infleksi bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk melakukan alternasi tendensi untuk bergerak konsolidasi di atas atau langsung melakukan reversi ke arah bawah.
IHSG sejak awal tahun telah terpampang nyata melintasi tiga cakrawala psikologis (4.400, 4.500, dan 4.600) dan per hari Senin ini sudah tujuh hari melayang bebas di atas khatulistiwa 4.600, dan empat poin lagi mendekati level psikologis baru keempat tahun ini di 4.700.
IHSG bergerak tangguh luar biasa, berselancar memanfaatkan momentum siklikal menikmati banjirnya likuiditas global tanpa terhimpit adanya perang mata uang. Jepang menang mutlak dalam perang mata uang saat ini, dan di saat yang sama sterling dan euro kalah telak, sedangkan dolar AS dan rupiah berdiri di tengah-tengah.
Yen telah melemah 18 persen terhadap dolar AS dan 20 persen terhadap euro sejak awal kuartal keempat, berkinerja terburuk selama periode yang sama sejak 1985, dan masih ada ruang untuk terus melemah hingga 120 serta Nikkei yang menuju 13 ribu hingga akhir tahun.
Adapun pergerakan harga saham didorong oleh banyak faktor makro, mikro, meso, dan meta ekonomi. Langkah taktis jangka pendek sering dapat dijelaskan lebih baik oleh sentimen dan teknikal. Saat ini, sentimen terhadap aset berisiko berada pada tingkat yang paling optimistis mendekati batas maksimum selama rentang waktu lebih dari satu dekade. Yang perlu diketahui dan diwaspadai oleh investor bahwa sejak 2002 aksi jual rata-rata diikuti oleh koreksi dari puncak sebesar 12 persen dalam waktu tiga bulan.
Sekarang ini terdapat momentum divergensi ekstrim antara sentimen di pasar keuangan (Wall Street) dengan data ekonomi di lapangan (main street), yaitu adanya dispersi dan deviasi ketidaksesuaian data yang tidak mendukung pasar untuk bergerak naik lagi terlalu jauh dari posisinya sekarang. Ada dua era waktu euforia saham yang mirip seperti saat ini yaitu sesaat sebelum keruntuhan pasar saham pada 2000 dan juga 2008.
Sejauh ini, Wall Street sudah naik lebih dari dua kali lipat sejak titik terendah di 2009 (begitu juga IHSG, sudah naik lebih dari 100 persen sejak pelemahan 2008), namun ternyata masih banyak pelaku pasar yang telah melewatkan dan bahkan tidak menyadari adanya reli saham ini sedari awal maupun pada pertengahan trennya. Sehingga gerbong investor yang ketinggalan terus mengejar berusaha membeli walaupun sudah terlihat mahal secara valuasi fundamental, dan membuat bursa terus-terusan naik.
Namun pergerakan reli kali ini sudah tidak ada hubungannya lagi dengan aspek fundamental, melainkan hanya terkait faktor teknis dan erat kaitannya dengan campur tangan stimulus bank sentral serta ekspektasi inflasi global ke depan, sehingga dapat dikatakan bahwa kenaikan bursa saham saat ini bersifat artifisial dan hasil fabrikasi ilusi moneter dan fiskal.
Saat ini perekonomian 17 negara pengguna mata uang euro masih terus melemah dan resesi masih diestimasi lebih panjang lagi dengan kondisi global yang diramaikan dengan adanya perang mata uang atau yang lebih tepatnya disebut sebagai perang dagang, hal ini mirip dengan apa yang terjadi di 1930, di mana pada waktu itu ada masa Standar Emas dan kejadian Depresi Besar yang berakibat bursa saham terjun bebas dan terkenal dengan Selasa Hitam.
Secara historikal, rata-rata durasi resesi pada abad 20 adalah selama 14 bulan, dengan resesi terlama tercatat pada Agustus 1929 hingga Maret 1933, selama 43 bulan, dan resesi yang tercepat adalah selama enam bulan yaitu pada Januari-Juli 1980 dan Juli 1981 sampai November 1982.
Juga terdapat sembilan tahun sejak 1960, bursa menawarkan keuntungan bagi investor di atas lima persen di Januari, pada 1961, 1967, 1975, 1976, 1980, 1985, 1987, 1989 dan 1997, dengan rata-rata keuntungan sebesar 23 persen. Selanjutnya, di masing-masing tahun tersebut, bursa naik lebih dari 19 persen kecuali untuk 1987 saat terjadi kejatuhan pasar saham pada Oktober.
Diamati dari sisi pergerakan harga, bursa saham AS sudah balik ke level di 2000 dan 2007. Saat ini pola manuver bursa AS mirip seperti yang terjadi di November 2004, dengan kenaikan yang terus menerus sampai sembilan kali. Secara agregat, dari penutupan pada 28 Desember (pra Tebing Fiskal) kenaikan Wall Street di Januari kemarin yang naik lebih dari tujuh persen adalah yang terbaik dalam 19 tahun terakhir.
Namun sayangnya, pada tahun tersebut dilanjuti oleh pergerakan yang relatif tidak begitu menyenangkan, saat itu yakni pada 1994 diikuti penurunan 10 persen di Februari. Bursa Wall Street juga naik pada Januari 2011 hingga kuartal I-2011, namun diikuti juga oleh koreksi pasar yang relatif tajam karena penurunan peringkat dan krisis utang Eropa, alhasil bursa AS hanya berakhir dengan bergerak datar saja menutup di 2011.
Sedangkan IHSG tercatat pada Januari 2013 empat kali (tanggal 3, 4, 16, dan 18) mencatatkan rekor kenaikan tertinggi baru. Sementara itu di Februari ini, IHSG berhasil menggores rekor baru per hari ini sebanyak 13 kali (tanggal 1, 4, 6, 7, 11, 12, 13, 14, 15, 18 20, 22, 25), terlihat jelas di sini bahwa terjadi reli panjang 142 poin tanpa henti selama enam hari bursa berturut-turut pada 11-18 Februari 2013.
Namun hal negatif yang menyertai kenaikan bursa saham global saat ini, selain segi divergensi data fundamental, adalah sisi teknis volatilitas pasar dalam intra hari yang kini telah tertekan ke titik terendah selama 17 tahun terakhir. Sejak 1996 volatilitas jangka pendek sangat rendah seperti saat ini, dan jika dilihat deviasi harian maka saat ini menjadi yang terendah sejak Desember 1986.
Pasar saham AS saat ini dinilai terlalu tinggi, sudah premium sekira empat persen dari nilai wajarnya secara makroekonomi, untuk pertama kalinya sejak 2007 dengan mengukur persentase kapitalisasi pasar total relatif terhadap produk nasional bruto, sudah melewati 100 persen sejak awal Februari ini.
Ingat, pasar tidak akan naik selamanya dalam jangka pendek. Jangan membeli saham 20 persen premium melebihi harga terakhirnya ataupun 30 persen premium terhadap harga saham dalam satu tahun (seperti yang dilakukan Buffett di sekitar hari Valentine lalu saat membeli Heinz).
Investasi di Indonesia sendiri masih ada masalah mengenai ekspor yang lemah, karena permintaan global yang tertekan dan harga sumber daya alam yang terkoreksi, alhasil keruntuhan pada neraca perdagangan. Setelah surplus hampir USD26 miliar pada 2011, Indonesia tahun lalu mencatat defisit perdagangan tahunan pertama sejak 1960-an. Transaksi berjalan juga mengakhiri pencapaian surplusnya selama 14 tahun, dan karena itu rupiah menjadi tertekan serta menjadi salah satu yang terburuk di Asia.
Berbicara mengenai defisit, defisit perdagangan bulanan Jepang telah mencapai rekor sebesar 1,6 triliun yen, serta tidak dapat dilepaskan juga dengan apa yang terjadi di AS secara keseluruhan, AS telah mengalami defisit perdagangan lebih dari USD8 triliun sejak 1975, dengan utang nasional sekarang mencapai USD16,4 triliun. Ini adalah utang terbesar dalam sejarah dunia, dan telah lebih dari 23 kali lebih besar sejak Jimmy Carter pertama kali masuk Gedung Putih.
Ketika Obama pertama kali menjadi presiden, rasio utang AS terhadap PDB berada di bawah 70 persen, saat ini sudah menembus level 103 persen. Hal ini dapat dikatakan sebagai gelembung ekonomi, dengan PDB AS sekarang sudah lebih dari 12 kali lebih besar sejak empat dekade lalu. Namun kabar buruknya adalah bahwa jumlah total utang sekarang lebih dari 30 kali lebih besar daripada 40 tahun yang lalu. Ke depannya, AS akan terus berutang begitu banyak dan otomatis kemampuan untuk menghasilkan kekayaan dan kemakmuran bagi rakyat akan terus menurun.
Status IHSG secara tren saat ini, baik jangka pendek maupun menengah-panjang tetap dalam posisi naik. Sudah sangat logis untuk mengambil keuntungan jangka pendek di saat IHSG maraton naik 8,8 persen dari titik terendahnya hingga titik tertinggi sejak awal tahun. Investor perlu mengingat kesalahan terdahulu yang hampir mirip polanya, serta tidak terlalu percaya kali ini hasilnya akan berbeda (bahwa pasar akan terus bergerak lurus, tanpa koreksi).
Hanya karena ada kemungkinan mengambil keuntungan, bukan berarti bahwa investor tidak bisa membelinya kembali nanti, tunggu setelah IHSG terkoreksi minimal lima persen dari posisinya saat ini, atau ketika IHSG berkonsolidasi di level 4.618-4.656. Saatnya berhenti melakukan koleksi saham dalam jangka pendek, tunggu saat pasar melakukan koreksi.
Menjelang rilisnya laporan keuangan emiten adalah momentum yang tepat untuk beraksi ambil untung. Level dukungan untuk satu pekan ini di 4.618, sedangkan level resistennya di 4.704. Saham-saham pilihan selektif saat ini adalah PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bukit Sentul Tbk (BKSL), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Ciputra Property Tbk (CTRA), dan PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI).
David Cornelis
Head of Research KSK Financial Group
(Widi Agustian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.