JAKARTA - Menjelang peleburan beberapa lembaga menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) pada 1 Januari 2014 banyak pertimbangan yang harus dilakukan. Pertimbangan tersebut, dilakukan agar tren BPJS mampu diarahkan menjadi lembaga dengan standar world class.
Direktur Utama PT Jamsostek Elvyn G Masassya mengatakan, untuk pertama yang harus dicermati adalah tren mengenai demografi dunia. Demografi tersebut, seperti usia hidup masyarakat yang ada di sebuah negara.
"Selanjutnya, tren semakin tingginya kaum wanita, apakah tidak dipikirkan manfaat-manfaat antara wanita dan pria. Harus ada benefit khusus di wanita," ujar Elvyn saat keynote speech Seminar Nasional PT Jamsostek Menuju BPJS di JS Wallusa, Jakarta, Senin (13/5/2013).
Dia melanjutkan, tren persiapan di aspek regulasi juga dinilai penting. Menurut Elvyn, aspek ini akan mendorong terciptanya BPJS yang baik. "Sesungguhnya di pengelolaan BPJS ada megatren dalam menyiapkan BPJS, dengan Mini tren yang tersebar di negara-negara di dunia," katanya.
Elvyn menambahkan, pemerintah juga harus memperhitungkan aspek bencana alam. "Beberapa negara juga melihat tren perubahan iklim dengan jaminan sosial layaknya Filipina mengantisipasi angin topan," ujar Elvyn.
Dia mengatakan, aspek tren accountability juga penting. Hal tersebut melihat kemampuan masyarakat membayar iuran. "Megatren ini belum banyak disiapkan untuk BPJS untuk jangka panjang," ujar Elvyn.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.