JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih bergerak melemah meski tipis. Sentimen positif dari Negeri Paman Sam, nampaknya telah membuat dolar AS terapresiasi.
Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mencatat Rupiah ada di kisaran Rp10.068 per USD, dengan kisaran perdagangan Rp10.018-Rp10.118 per USD. Sementara kurs tengah Bloomberg tercatat di Rp10.153 per USD, dengan kisaran perdagangan Rp10.065-Rp10.195 per USD.
Head of Research & Analysis Nurul Eti Nurbaeti mengungkapkan, tekanan terhadap Rupiah masih berlanjut pagi ini di tengah pengawalan BI yang dapat sewaktu-waktu masuk ke pasar valas untuk meredakan tekanan terhadap Rupiah.
"Minimnya data makro ekonomi global hari ini mendorong pergerakan dolar AS terkonsolidasi menguat hari ini," kata dia dalam risetnya di Jakarta, Senin (22/7/2013).
Sementara analis Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, mengungkapkan pemilik Pimco, Bill Gross, memperkirakan the Fed baru akan mengurangi program stimulusnya paling cepat tahun 2016.
Pernyataan ini merespons pernyataan Gubernur the Fed Bernanke yang mensinyalkan masih akan melanjutkan program pembelian obligasi pemerintah senilai USD45 miliar. "Kecuali kondisi ekonomi AS menunjukkan perbaikan sesuai ekspektasi the Fed," kata dia.
Menurutnya, pernyataan Bernanke ini membuat yield Tresury Bond (TB) 10 tahun AS turun 10 bps menjadi 2,48 persen, turun dari posisi tertinggi 2,75 persen pada 8 Juli lalu. "Pimco menilai Bernanke relatif tidak tegas dalam membuat perkiraan untuk ekonomi AS dan kebijakan moneternya," tukas dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)