Bagaimana negara-negara harus bereaksi terhadap ancaman pada pertumbuhan akan menjadi agenda utama dalam pembicaraan di Shanghai. IMF mendesak negara-negara untuk meningkatkan stimulus fiskal dan mendorong melalui reformasi-reformasi untuk meningkatkan permintaan.
Dikatakannya, bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, harus mempertahankan kebijakan moneter akomodatif untuk memastikan kondisi-kondisi keuangan lebih ketat tidak menghambat momentum pertumbuhan.
Namun, IMF menekankan, "untuk menghindari ketergantungan lebih besar pada kebijakan moneter, kebijakan fiskal jangka pendek akan mendukung pemulihan bila memungkinkan dan asalkan ada ruang fiskal, fokus pada investasi." Selain guncangan ekonomi dunia dari pelambatan Tiongkok dan kejatuhan harga-harga komoditas, IMF mengatakan isu geopolitik seperti krisis pengungsi Suriah dan meningkatnya infeksi di Amerika Latin dari virus Zika menimbulkan ancaman ekonomi.
Untuk negara-negara yang memikul beban terbesar dari krisis mereka, dan negara-negara yang dinyatakan fit tetapi dibiarkan rentan dengan penurunan komoditas-komoditas, IMF mengatakan jaring pengaman keuangan dunia yang meliputi program-program milik Dana sendiri bisa ditingkatkan.
Tanpa spesifik, IMF menyerukan mekanisme pembiayaan baru untuk membantu negara-negara dalam gejolak keuangan.
"Banyak negara di pusat guncangan tersebut memikul beban untuk orang lain, dengan kapasitas dan ruang fiskal sering terbatas," kata laporan itu.
"Menyadari publik global ramah dari tindakan-tindakah mereka, mereka bisa didukung oleh inisiatif terkoordinasi seluruh dunia untuk memberikan dukungan keuangan." sambungnya. (dan)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.