JAKARTA - Hari ini, 1 Mei 2017, diperingati sebagai Hari Buruh di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang dikenal juga dengan May Day. Namun, saat banyak buruh turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya di depan Istana Negara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) justru sedang berada di Hong Kong.
Keberadaan Jokowi di Hong Kong untuk melakukan pertemuan bisnis baik dengan pemerintahan setempat dan juga dengan para pekerja Indonesia. Padahal, banyak buruh di negeri sendiri yang ingin menyuarakan aspirasinya.
Pengamat Ekonomi Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, Hari Buruh di Indonesia tak harus ditangani oleh presiden secara langsung, karena masih bisa ditangani oleh menteri terkait yakni Menteri Tenaga Kerja (Menaker).
"Enggak harus langsung presiden. Kan presiden jauh-jauh hari sudah ada jadwal perjalanan dinasnya. Ini bisa ditangani oleh Menterinya (Menaker Hanif Dhakiri) dan juga Wapres (Jusuf Kalla). Enggak terlalu urgent, kecuali masalahnya besar, karena ini (aksi buruh) sudah biasa setiap tahun, jadi ya pemerintah perwakilan cukup dengan menterinya saja," ungkapnya saat dihubungi oleh Okezone, Senin (1/5/2017).
Menurutnya, masalah buruh tidak hanya ada di Indonesia. Para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ada di luar negeri juga memiliki masalah yang sering lepas dari pengawasan pemerintah. Sehingga, kedatangan Presiden Jokowi ke Hong Kong untuk bertemu pemimpin Hong Kong bisa mengurangi permasalah buruh di negeri tersebut.