JAKARTA - Derasnya arus dana asing yang masuk (capital inflow) diperkirakan mendongkrak indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 3.500. Kondisi tersebut didukung oleh terjaganya pertumbuhan ekonomi serta penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) sejumlah perusahaan berkapitalisasi besar.
"Jika rencana sejumlah perusahaan besar melakukan IPO terlaksana, indeks akan naik lebih tinggi lagi.Pasalnya,likuiditas saat ini memang berlebih," ujar analis Eko Capital Cece Ridwan di Jakarta.
Menurut Cece, asing masih memburu produk-produk investasi yang menguntungkan serta likuid. Tidak heran, bila pasar saham dan juga obligasi pemerintah menjadi tujuan investasi mereka. “Dengan banyaknya dana asing yang melakukan pembelian produk-produk tersebut, otomatis rupiah juga menguat,” ujarnya.
Cece menuturkan, investor asing memang menunggu emiten baru yang dianggap menguntungkan. Sebab, valuasi sejumlah saham-saham unggulan (blue chip) sudah dianggap terlalu tinggi.“Karena biasanya saham perdana itu mengalami diskon 30 persen dari valuasi wajarnya. Untuk itu, saham-saham baru yang berkualitas akan diminati asing,” tuturnya.
Cece berpendapat, dari sejumlah rencana IPO di sisa tahun ini,beberapanya dianggap sangat potensial, yakni IPO PT Indofood CBP Sukses Makmur, PT Bumi Resources Mineral,PT Harum Energy,serta PT Borneo Lumbung Energi.
Dua badan usaha milik negara (BUMN) yang berniat melantai di bursa,yaitu PT Krakatau Steel dan PT Garuda Indonesia juga dianggap sangat menarik, jika sahamnya diperdagangkan. "Saham-saham ini berpotensi menjadi saham-saham unggulan baru," kata Cece.
Masuknya saham-saham tersebut, sambung Cece, bisa mengangkat IHSG ke level 3.300-3.500.Pada penutupan akhir pekan lalu, IHSG kembali mencetak rekor baru setelah menguat 42,128 poin (1,34 persen) ke level 3.164,277.
(Widi Agustian)