Inilah Harga Saham KS Versi Underwriter!

Wilda Asmarini, Jurnalis
Senin 01 November 2010 15:35 WIB
Ilustrasi
Share :

JAKARTA - Terkait kontroversi seputar penetapan harga saham IPO PT Krakatau Steel (Persero) pada angka Rp850 per lembar saham, akhirnya para penjamin emisi perseroan pun membeberkan berapa besar permintaan investor terhadap rentang harga yang sebelumnya dikemukakan perseroan, yakni sebesar Rp800-Rp1.150 per lembar saham.

Presiden Direktur Danareksa Sekuritas Marciano Herman menyebutkan, dari konsolidasi buku, dengan harga Rp800 per lembar saham, maka akan diperoleh pemesanan sebanyak 32 miliar lembar saham. Namun, bila ditetapkan pada harga Rp1.150 per lembar saham, maka saham dipesan hanya 18 miliar lembar saham.

"Ini dari indikasi (bookbuilding), bukan dari penawaran. Itu kompilasi dari strike price dengan regardless price (Rp1.150)," tutur Marciano saat konferensi pers di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (1/11/2010).

Lebih lanjut, dia mengatakan harga Rp1.100 per lembar saham itu kurang tepat. Pasalnya, itu merupakan strike price, bukan pemesanan pada harga mana pun (at any price). Biasanya, investor ritel yang melakukan strike price itu (Rp1.100 per lembar saham). Sedangkan institusi kurang mencerminkan harga Rp1.100.

Dia mengatakan, pada harga Rp800, sebanyak 50 persen berasal dari kalangan investor ritel dan 50 persen merupakan institusi.

"Apabila abaikan investor ritel, dengan harga Rp800 per lembar saham, maka permintaan investor lokal (tier one/ investasi jangka panjang) sekitar 4,7 miliar lembar saham. Sedangkan pada harga Rp850-900 per lembar saham, maka terjadi penurunan sangat signifikan. Contohnya, permintaan dari investor internasional setengahnya drop (turun)," jelasnya.

Dengan pertimbangan harga dan permintaan tersebut lah, maka menurutnya pihaknya dan underwriter lainnya memutuskan untuk menetapkan harga perseroan pada Rp850 per lembar saham. "Oleh karena itu, JLU (Joint Lead Underwriter) dan International Selling Agent (ISA) mengusulkan harga Rp850 per lembar saham," pungkasnya.

Sementara Presiden Direktur Bahana Securities Eko Yuliantoro mengatakan, Rp850 per lembar saham itu merefleksikan 9,9 kali price earning ratio (PER) saham perusahaan KS pada 2011 mendatang. Dibandingkan perusahaan sejenis seperti Posco atau Tata Steel, dikatakannya hanya 8,1-8,2 kali.

"Tadinya kami coba usulkan Rp500-Rp1.100 per lembar saham, lalu kami lakukan pre-marketing untuk mendapat feedback dari pasar. Lalu setelah pre-marketing itu, permintaan dari pasar diketahui sekira Rp750-1.000 per lembar saham.  Berdasarkan faktor itu, JLU usulkan harga Rp850 per lembar saham," bebernya.

Adapun alokasi untuk investor ritel menurutnya akan dibatasi hingga 20 persen, sementara institusi sebanyak 80 persen. "Ini untuk memenuhi antusiasme pasar (ritel)," tandasnya.

Seperti diketahui, KS menargetkan sebanyak 3,155 miliar lembar saham yang akan dilepas kepada publik pada 10 November mendatang.

Namun, dalam laporan riset E-Trading Securities, disebutkan harga saham IPO Krakatau Steel pada level Rp800-Rp1.150 mencerminkan rasio harga terhadap laba per saham (PER) sebesar 6,39 kali-9,18 kali pada 2010.

Sebagai perbandingan, data Bloomberg menyebutkan rasio PE emiten baja asal Korea yakni Posco untuk 2010 besarnya 9,06 kali. Rasio PE emiten baja asal India yakni Tata Steel di level 10,37 kali, masih lebih tinggi dari rasio PE Krakatau Steel.

Jika penjamin emisi menggunakan harga tertinggi sebesar Rp1.150, dana yang didapat akan mencapai Rp3,63 triliun, atau lebih tinggi dari dana yang diraup dari harga resmi Rp850 yakni hanya Rp2,68 triliun. Ada potensi Rp1 triliun yang lenyap dari tangan Krakatau Steel.

(Widi Agustian)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya