BANDUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim bahwa perbedaan angka kemiskinan yang dikeluarkan oleh Bank Dunia dan BPS bukan disebabkan oleh perbedaan data, hanya saja adanya perbedaan standar yang ditentukan oleh masing-masing lembaga.
Kepala Biro Humas dan Hukum BPS Sairi Hasbullah menyatakan bahwa sebenarnya Bank Dunia tidak pernah mengambil data secara langsung di lapangan, namun hanya mengolah dan menerapkan standar atas data yang diperoleh BPS.
Angka kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS sekira 35 juta orang, sedangkan Bank Dunia mengklaim jumlah orang miskin hampir mencapai 100 juta orang.
"Kenapa angka BPS dan Bank Dunia soal kemiskinan bisa berbeda? Apa angka BPS enggak benar? Yang benar itu, tidak pernah Bank Dunia itu mengumpulkan data kemiskinan apapun. Teman-teman di Bank Dunia juga pakai data BPS hanya standarnya saja beda, terserah mereka," ujarnya dalam Workshop Wartawan 2010 'Membawa Statistik Lebih Dekat ke Masyarakat' di Hotel Golden Flower, Bandung, Sabtu (13/11/2010).
Menurutnya, angka kemiskinan yang disampaikan BPS hanya mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah, sehingga BPS hanya mengolah data sesuai standar yang ditentukan. Sedangkan Bank Dunia, menetapkan standar bahwa orang miskin adalah orang yang pengeluarannya kurang USD2 per hari.
Sairi pun menuturkan bahwa kondisi pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat tidak serta merta menurunkan angka kemiskinan, terutama di negara-negara berkembang di Indonesia.
Pasalnya, angka pertumbuhan ekonomi yang lebih baik berasal dari akumulai nilai tambah, namun belum tentu terdistribusi secara merata. "Misalnya di daerah, kalau PDRB-nya (Produk Domestik Regional Bruto) tinggi seperti daerah yang kaya sumber daya-nya, tidak otomatis kemiskinan turun," tandasnya.
(Widi Agustian)