JAKARTA - PT Wijaya Karya Tbk (Wika) pernah mengungkapkan bila penyelesaian proyek perseroan di Libya dipastikan mundur dari target yang direncanakan sebelumnya pada Juni 2011.
Pasalnya, perseroan menarik semua pekerjanya di negara tersebut menyusul konflik politik yang terjadi di negara tersebut. Sekretaris Perusahaan Wika Natal Argawan Pardede mengatakan, seluruh pekerja Wika sebanyak 200 orang tiba di Tanah Air pada kemarin malam.
“Kemarin malam (Selasa) 10 orang sampai Jakarta, sisanya 191 orang akan sampai hari ini (kemarin), pukul 15.45 dan 21.00 WIB di bandara Soekarno Hatta,” kata dia saat dihubungi, di Jakarta, Rabu (2/3/2011).
Seperti diketahui, Wika bersama dengan perusahaan lokal Libya, Solar Sahara Investment membangun mal senilai USD11,6 juta atau setara Rp104,4 miliar.
Pembangunan mal milik World Islamic Council Society (WICS) tersebut mulai dikerjakan pada kuartal IV/2010 dan ditargetkan rampung pada akhir kuartal II/2011. Dalam proyek tersebut, Wika mendapatkan porsi mayoritas sebesar 70 persen dan sisanya 30 persen dimiliki Solar Sahara.
Akibat krisis politik tersebut, Natal mengatakan, penyelesaian proyek tersebut diperkirakan mundur dari target awal, namun diharapkan tetap bisa selesai tahun ini.
Disinggung mengenai kerugian dari penundaan penyelesaian proyek tersebut, dia mengaku, perseroan tidak mengalami kerugian finansial lantaran sudah menerima uang muka yang setara dengan progress pekerjaan.
“Uang muka yang diterima 10 persen (dari nilai proyek) dan progress pekerjaan yang dilaksanakan sekira 10 persen,” imbuh Natal.
Selanjutnya, jika konflik politik di Libya dan negara sekitarnya sudah kembali kondusif, maka perseroan akan mempertimbangkan mengembalikan 200 pekerja guna menyelesaikan kontrak tersebut.