Krisis di Libya Pengaruhi Harga Pertamax

Muhammad Rifai, Jurnalis
Senin 07 Maret 2011 15:28 WIB
Ilustrasi. Foto: Heru Haryono/okezone
Share :

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) berharap krisis di Libya segera berakhir dan tidak merembet ke negara-negara Timur Tengah lainnya.

Jika sampai merembet, Pertamina khawatir nantinya akan mengganggu pasokan minyak di Indonesia, karena sebagian besar minyak di Indonesia diimpor dari negara-negara tersebut.

"Saya tidak tahu kalau harus mengantisipasinnya ini. Namun, mudah-mudahan saja setop sampai di negara ini saja (Libya) dan tidak merembet ke negara lainnya,” ungkap Direktur Utama PT Pertamina, Karen Agustiawan, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (7/3/2011).

Pertamina mengakui, krisis di Timur Tengah berdampak besar pada harga bahan bakar minyak khususnya jenis pertamax. Hal itu karenakan harga pertamax harga dasarnya tergantung dari harga crude oil internasional.

"Tergantung harga dasarnya crude oil, kalau crude oil-nya naik, harga pertamax juga naik,” ujar Karen.

Untuk mengantisipasi kenaikan dan kelangkaan minyak pihak Pertamina berjanji akan menggenjot lagi produksi hulu sebesar mungkin, Sebagai antisipasi harga minyak dunia yang diperkirakan akan terus menembus hingga kisaran USD130 per barel.

Saat ini produksi premium jauh di bawah kebutuhan, produksi premium hanya sekira 10,58 juta kiloliter, sedangkan untuk pertamax hanya sekitar 0,48 juta KL, dan itu jauh dari kebutuhan mereka.

Sementara untuk premium, total kebutuhan masyarakat mencapai 20,86 juta KL, sedangkan untuk pertamax, pertamina membutuhkan total sekita 4,69. Untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut, Pertamina masih memerlukan BBM impor.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya