JAKARTA - Akuisisi PT Tower Bersama Infrastrukture Tbk (TBIG) atas perusahaan pengelola menara telekomunikasi PT Mitrayasa Sarana komunikasi (Infratel) molor dari target waktu yang sudah ditetapkan.
"Kita memang mundur sedikit dari waktu yang ditargetkan," jelas Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso di Restoran Kembang Goela, Jakarta, Senin (8/8/2011) malam.
Rencananya, aksi korporasi TBIG tersebut rampung pada Juli. Tapi kenyataannya hingga medio Agustus sekarang pun belum rampung juga. "Karena butuh waktu untuk klarifikasi tower yang ada dalam due diligence, begitu juga proses legalnya," jelas dia.
Walau begitu, dia yakin langkah ini bakal mendongrak revenue dan Ebitda perseroan melonjak lebih dari 10 persen. "Increase revenue dan Ebitda kita akan di atas 10 persen (akibat akuisisi Infratel)," ucapnya.
Per Juni lalu, perseroan sudah memiliki sebanyak 5.381 tenant. Dari akuisisi Infratel, akan ada tambahan sebanyak 672 tenant.
Untuk pendanaannya, dia mengaku telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar USD120 juta dari dana IPO. Dana itu termasuk untuk akuisisi dan pembangunan. "Sumber dananya dari IPO, sebesar Rp1,1 triliun. Sebagian kita sudah pakai atau sudah kita absurb untuk bangun towernya sendiri," ungkap dia.
(Widi Agustian)