JAKARTA - Maskapai penerbangan Emirates membukukan laba bersih 827 juta Uni Emirat Arab Dirham (USD225 juta) per 30 September 2011.
Chairman and Chief Executive, Emirates & Group Sheikh Ahmed bin Saeed Al-Maktoum menyatakan, pada semester pertama tahun keuangan 2011-2012 Emirates mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat, baik dari segi kapasitas yang ditawarkan dan pasokan lalu lintas yang diterbangkan.
Kinerja ini sangat kontras dengan tren di seluruh industri penerbangan saat ini.
"Kinerja Emirates pada tengah semester terakhir ini merupakan bukti nyata atas dasar bisnis yang kuat, kegigihan untuk tetap berada dalam jalur, dan terus berkembang meskipun pasar sedang goyah," ujar Ahmed seperti dikutip dari keterangan tertulisnya kepada okezone, Sabtu (5/11/2011).
Dia mengimbuhkan, pendapatan perusahaan meningkat 20 persen per tahun selama periode waktu yang sama.
Tidak hanya itu, selama 23 tahun Emirates mencatatkan profitabilitas tak tertandingi oleh maskapai penerbangan lain.
Pada laporan keuangan Emirates per 30 September 2011 tercatat, laba Emirates termasuk pemasukan operasi lainnya meningkat 15 persen menjadi Uni Emirat Arab Dirham 30,3 miliar (USD8,3 miliar) dari Uni Emirat Arab Dirham 26,4 miliar (USD7,2 miliar).
Posisi kas pada neraca kas berjalan Emirates tetap kuat dengan jumlah Uni Emirat Arab Dirham 13,8 miliar (USD3,8 miliar) dibandingkan pada 31 Maret 2011 sebesar Uni Emirat Arab Dirham 14,0 miliar (USD3,8 miliar).
"Mempertahankan keseimbangan kas ini dicapai setelah adanya penyelesaian penanaman modal sebesar Uni Emirat Arab Dirham 4 miliar, terutama untuk pembayaran pesawat yang telah dipesan, beberapa aset pesawat lainnya, dan pelunasan oligasi lainnya," imbuh Ahmed.
Pada semester pertama, Emirates telah meningkatkan pembayaran USD1 miliar melalui penerbitan obligasi baru, serta mengatur keuangan pengiriman 10 armada pesawat baru.
Kinerja baik juga ditunjukkan dari peningkatan kapasitas yang diukur melalui Available Seat Kilometres (ASKM) atau kursi yang tersedia per kilometer yakni 8,2 persen. Pos layanan penumpang yang diukur dengan Revenue Passenger Kilometer (RPKM) atau pendapatan penumpang per kilometer naik 5,7 persen.
Rata-rata tingkat keterisian kursi cukup tinggi dengan yakni 79,3 persen meski pertumbuhan kapasitas menurun sedikit dibandingkan catatan semester pertama tahun lalu yakni 81,2 persen. Sedangkan volume kargo yang diterbangkan sama dengan tahun lalu. (rfa)
(Rani Hardjanti)