JAKARTA - Kondisi ekonomi global yang masih berada dalam tekanan, membuat asumsi ekonomi yang ada dalam APBN harus disesuaikan. Ditambah lagi, kondisi geopolitik di berbagai negara ikut mempengaruhi penerimaan negara.
Menurut Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan Firmanzah, salah satu fokus perhatian pemerintah dalam APBN-Perubahan 2014 adalah revisi penerimaan negara yang semula ditargetkan dalam APBN 2014 sebesar Rp1.667,1 triliun.
Dia menyebutkan, revisi dari sisi penerimaan dilakukan dengan mempertimbangkan risiko tidak tercapainya penerimaan dari sektor perpajakan yang semula ditargetkan sebesar Rp1.280,4 triliun.
"Menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, juga berpengaruh atas realisasi penerimaan sektor perpajakan di 2014," katanya seperti dilansir dari Setkab, Senin (2/6/2014).
Karena itu, direvisinya target penerimaan Negara akan berdampak pada penyesuaian dari sisi pengeluaran agar defisit anggaran sesuai dengan amanat UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yaitu tidak boleh melampaui dari 3 persen dari PDB.
Menurut Firmanzah, salah satu tantangan dari sisi fiskal adalah menjaga subsidi energi sesuai dengan target yang telah ditetapkan di awal, dimana dalam APBN 2014, subsidi BBM ditetapkan sebesar 48 juta kiloliter atau Rp210,7 triliun dan subsidi listrik sebesar Rp71,3 triliun.
Kementrian ESDM juga tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk tetap menjaga besaran subsidi khususnya BBM agar tidak melampaui anggaran yang telah ditetapkan.
(Martin Bagya Kertiyasa)