MEDAN – Harga Emas global yang kini terperosok hingga USD1.300 per ounce dinilai belum sepenuhnya mematikan prospek bisnis pertambangan emas. Hal itu karena permintaan emas di pasar internasional masih stabil.
“Saya pikir prospeknya masih cukup baik. Memang tidak sebaik awal tahun 2014 lalu. Di mana harga emas masih berada di level USD1.400. Tapi permintaan saat ini masih stabil. Artinya kita masih bisa memperoleh margin keuntungan,”ujar Vice President Director Tambang Emas Martabe, Linda Siahaan, Jakarta, Rabu (2/7/2014).
Linda mengaku, prospek bisnis tambang emas ini pun masih sangat strategis untuk mendorong perekonomian masyarakat, khususnya di daerah sekitar tambang. Namun dibutuhkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya di daerah.
“Pada saat ini semua harga mineral memang sedang tiarap. Akan tetapi emas masih termasuk yang bisa bertahan meski hanya diperdagangkan di kisaran USD1.300 per ounce. Maka dari itu, saya pikir selama potensi-potensi emas yang ada masih bisa dikelola dengan baik dan bertanggung jawab kepada lingkungan dan masyarakat, maka harapannya potensi yang ada itu dapat terus dimanfaatkan,” tambahnya.
Sementara itu sebelumnya, pengamat pertambangan MS Marpaung mengatakan, guna memaksimalkan potensi pertambangan untuk menyejahterakan masyarakat di daerah, pemerintah harus berani menjadikan pertambangan sebagai industri strategis. Pemerintah pun diminta melakukan perubahan paradigma, dalam pengaturan bisnis pertambangan.
“Kalau cuma ada satu tambang di satu daerah, ya enggak mungkin daerah itu maju. Paling-paling hanya di sekitar proyek tambang itu saja. Penggarapan pertambangan harus lebih maksimal, seperti di pantai barat Sumatera, kalau semua potensi di garap maksimal, masyarakat pasti sejahtera. Pemerintah harus berani berubah, jangan setiap dengar pertambangan selalu bicara, enggak bisa karena. Tapi coba dengan bisa asalkan dengan syarat. Ketentuan pertambangan kita kan sudah jelas untuk dijadikan acuan,” terangnya.
(Fakhri Rezy)