Kura-Kura Moncong Babi di Bawah Ancaman

, Jurnalis
Jum'at 30 Januari 2015 11:35 WIB
Petugas memperlihatkan kura-kura moncong babi di Bandara Soetta. (Foto: AWSJ)
Share :

Indonesia Real Time sempat berbincang dengan Chris R. Shepherd, direktur regional Traffic di Asia Tenggara. Shepherd, yang meriah gelar PhD dari Oxford Brookes University di Inggris merupakan kelahiran Kanada. Ia tinggal di Asia Tenggara selama lebih dari 20 tahun.

WSJ: Mengapa orang-orang menyelundupkan kura-kura moncong babi? Apa yang menyebabkan kura-kura ini bernilai? Siapa yang membeli dan untuk tujuan apa?

Shepherd: Kura-kura moncong babi dijual dalam perdagangan dunia sebagai hewan peliharaan. Makhluk ini memiliki karakter unik, semacam persilangan antara kura-kura air tawar dan kura-kura laut. Moncongnya pun unik, karena seperti hidung babi. Karena itulah mereka sangat populer.

Sejumlah besar pembeli barangkali tidak menyadari, kalau mereka membeli hewan yang secara ilegal diambil dari alam bebas, lalu diselundupkan dalam koper atau kargo, dijual—kadang-kadang secara terbuka—di toko-toko hewan peliharaan. Permintaan utama datang dari Cina. Di sana, kura-kura hidung babi dijual sebagai hewan peliharaan atau dikonsumsi sebagai daging mewah.

Apakah kura-kura hidung babi mudah ditemukan? Ataukah jumlah mereka menurun?

Kura-kura moncong babi ditemukan di Papua dan sejumlah kawasan utara Australia. Mayoritas pencurian ilegal dari alam bebas terjadi di Papua Barat. Habitat mereka terbatas di beberapa sungai. Malangnya, mereka bersarang secara musiman. Artinya, penyelundup tahu kapan mesti mengambil telur-telurnya. Menurut klaim setempat, jumlahnya terus berkurang. Melihat banyaknya kura-kura moncong babi yang dijual di pasar gelap, rasanya fenomena ini tak mengejutkan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya