Share

Bos Blue Bird Komentari Persaingan Taksi Jakarta

Kamis 18 Juni 2015 10:40 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 18 320 1167312 bos-blue-bird-komentari-persaingan-taksi-jakarta-TP5RDH2E3o.jpg Bos Blue Bird komentari persaingan taksi Jakarta. (Okezone)

JAKARTA - Di tengah maraknya persaingan pelbagai perusahaan taksi menguasai jalan-jalan Jakarta yang kian padat, Blue Bird Group masih menjadi yang terdepan.

Armadanya terdiri atas 32.000 unit taksi yang terdapat di 17 kota. Perusahaan ini dirintis oleh nenek Noni Purnomo, sang presiden direktur, pada 1965.

Tahun lalu, Blue Bird menggalang Rp2,45 triliun dari penawaran saham perdana. Pada kuartal pertama 2015, perusahaan telah menghabiskan Rp2 triliun guna melunasi utang dan melakukan ekspansi lewat pembelian lahan atau kendaraan baru.

Meski perekonomian telah melambat, pendapatan Blue Bird pada triwulan pertama naik 17 persen menjadi Rp1,28 triliun, ujar Adi Hartadi, kepala investor relations PT Blue Bird Tbk, lewat email. Pertumbuhan bersumber dari lonjakan jumlah penumpang hingga 7 persen serta kenaikan tarif demi mengikuti revisi harga bahan bakar. Perusahaan berencana menambah armada dan telah mendapatkan 6.000 izin baru.

Sejak Noni kecil, taksi sudah mengalir dalam darahnya. Ia mengaku berkendara sendiri setidaknya sekali untuk mengarungi kemacetan Jakarta. Lulusan fakultas teknik industri ini juga memahami pentingnya teknologi baru.

Blue Bird menjadi perusahaan transportasi pertama di Indonesia yang mengembangkan aplikasi mobile pada 2011, jauh sebelum Uber dan Grab Taxi masuk. The Wall Street Journal berbicara dengan Noni guna mengetahui pendapatnya mengenai persaingan taksi serta potensi pemecahan kemacetan Jakarta. Berikut petikannya:

WSJ: Kini, semakin banyak perusahaan taksi serta aplikasi transportasi baru seperti Uber memasuki Indonesia. Bagaimana pendapat Anda mengenai persaingan tersebut?

Noni: Saat ini, pangsa pasar kami sekitar 37 persen dari armada keseluruhan. Jadi, kami memiliki, memelihara, dan mengendalikan armada serta pengemudinya. Yang lain—Uber dan GrabTaxi—adalah perusahaan aplikasi. GrabTaxi, contohnya, membantu perusahaan taksi kecil yang tidak mampu mengembangkan sistem serupa yang dimiliki [Blue Bird]. Saya rasa kami dapat berbagi pasar.

Mengapa Anda memutuskan untuk mengembangkan aplikasi? Bagaimana pengaruhnya terhadap layanan Anda?

Kami meluncurkan aplikasi pada 2011. Namun, kebanyakan penumpang kami masih mencari taksi [langsung] di jalan serta meminta jasa dari pangkalan terdekat. Kami memiliki lebih dari 450 pangkalan eksklusif di tanah air seperti pusat perbelanjaan, apartemen, dan gedung perkantoran. Alasannya: efisiensi operasional. Kami dapat mengirim taksi terdekat yang diminta pelanggan. Yang terpenting adalah para pelanggan kami memiliki pilihan. Aplikasi taksi adalah salah satunya. Sebanyak 8.000 pesanan disampaikan lewat aplikasi, dan 25.000 lewat panggilan telepon. [Keduanya] hanya mewakili 30% perjalanan armada. Jadi, sebagian besar masih memanfaatkan taksi dari pangkalan atau jalanan. Adakah peran yang dapat diambil Blue Bird dalam ikut menghubungkan sistem transportasi massal yang tengah direncanakan, seperti MRT?

Warga Jakarta butuh konektivitas terintegrasi. Transportasi massal dapat berfungsi sebagai pokok, karena modelnya menghubungkan satu titik ke titik lain. Orang-orang masih membutuhkan model transportasi yang mengantarnya hingga tujuan akhir. Kami dapat menjadi pendukung jaringan tersebut. Kereta butuh layanan taksi, juga sebaliknya. Kami akan saling bergantung satu sama lain.

Terkait konektivitas itu, apakah masalah pembayaran sudah dibicarakan?

Urusan itu sangat pelik karena berkaitan dengan sejumlah lembaga. Saat ini, kami bekerja sama dengan Bank Mandiri untuk urusan pembayaran. Jadi, jika sistem transportasi menggunakan model pembayaran sama, kami tentunya dapat memanfaatkan jenis pembayaran serupa karena Mandiri digunakan juga untuk membayar tol. Harapannya, ada sinergi. Tapi, ya, itu tantangan.

Anda juga mengepalai Blue Bird Cares. Bagaimana upaya Blue Bird meningkatkan penghasilan pengemudinya?

Blue Bird tidak menerapkan sistem sewa. Semuanya berdasar atas komisi. Jadi, semakin banyak setoran, semakin besar komisi yang akan didapatkan [pengemudi]. Sifat [komisi] progresif. Mereka bisa mendapat hingga 30 persen dari total [setoran]. Semua cabang memiliki fasilitas kesehatan. Kami menyediakan beasiswa bagi anak-anak [para sopir]. Kami pun mengajak para istri mereka untuk bergabung.

Saat ini, kami memiliki sekitar 38.000 pengemudi dan hanya 100 di antaranya perempuan. Kebanyakan pengemudi kami berkeluarga. Gagasan dasarnya, para istri dapat menyokong perekonomian keluarga dari rumah. Kami memberdayakan mereka sebagai penjahit seragam. Tetapi, kami tak ingin mereka jadi bergantung kepada kami semata. Maka, mereka pun mendapatkan pelatihan kewirausahaan.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini