Total beras Bulog yang dibagikan kepada warga Kelurahan Mekar jati sebanyak 8 ton. Laporan peredaran beras sintetis juga disampaikan sejumlah warga di Kota Jayapura, Papua. Yves Papare, warga Perumnas II, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, misalnya, mengaku pernah membeli satu kilogram beras di kios dekat tempat tinggalnya pada Selasa 19 Mei sore.
Ketika di masak untuk santapan malam kurang lebih sejam, beras yang dibeli itu tidak juga menjadi nasi, tetapi hanya berbentuk setengah matang. "Sehingga saya katakan kepada istri untuk menyimpannya, dan besok dimasak jadi bubur saja. Tapi keesokannya, saat dimasak dari pukul 11.00- 14.00 WIT, tidak juga menjadi bubur seperti pada umumnya, nasi kalau dimasak ulang pasti akan hancur dan menjadi bubur," katanya.
Yves pun mengakui sempat memakannya, namun rasanya berbeda jauh dari nasi pada umumnya. Rasanya beda, terasa penuh namun bukan kenyang. Bahkan, istrinya sempat mengeluhkan sakit perut. Milka Papuko, 69, tetangga Yves Papare, juga mengeluhkan hal yang sama. Dia mengaku bulan lalu membeli beras di pasar dengan kemasan 'beras Bulog 50 kilogram’, seperti beras yang diperuntukkan untuk PNS.
Beras yang dibelinya tersebut terlihat bening, bersih, dan tidak ada kotorannya. Setelah dimasak, berasnya ternyata tidak bisa menjadi nasi. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Jayapura Robert Lukas Nadap Awi membenarkan bahwa ada laporan warga mengenai penemuan beras yang diduga demikian. Sayangnya, dia tidak mendapatkan beras dimaksud karena sudah telanjur dibuang.
Kendati demikian, pilihannya sudah mengambil sampel dari kios penjual dan menyerahkan sampel ke BPOM. "Sementara ini kami belum bisa pastikan apakah itu beras plastik atau sintetis atau bukan, sehingga kami tidak bisa membuat pernyataan bahwa beras plastik sampai hari ini beredar di Kota Jayapura, kami masih me nunggu hasilnya dari BPOM," katanya.