JAKARTA - Temuan beras plastik juga menghebohkan warga Kampung Jatimulya I RT/02 RW 01 Kelurahan Mekarjati, Kecamatan Karawang Barat, Jabar.
Warga menemukan beras berciri-cirinya sama dengan informasi yang diterima dari media massa. Hal menghebohkan beras yang diduga sintetis itu ditemukan pada kemasan raskin berasal dari Bulog. Beras plastik diduga dioplos dengan beras asli.
Beras plastik membahayakan ini pertama ditemukan oleh warga bernama Juju saat akan menanak beras raskin. Dia curiga dengan bentuk, warna, dan tekstur beras berbeda dengan yang biasa dikonsumsi. Kemudian dia melaporkan kepada sang suami, Tatang. Ternyata apa yang dialami Juju tidak sendirian. Tetangganya, Yeni, juga menemukan keresahan sama.
Bentuk beras plastik tersebut agak kotak tidak seperti beras alami yang lonjong pipih. Warnanya lebih bening dibandingkan beras alami, sementara aromanya tak ada alias hambar. Padahal beras aromanya khas. Selain itu, beras sintetis saat dibakar menyala serta meleleh seperti plastik. Sementara staf Kelurahan Mekarjati Tanto Gunawan menginformasikan beras raskin yang diduga dioplos beras plastik merupakan jatah beras yang di bagikan untuk bulan Mei.
Total beras Bulog yang dibagikan kepada warga Kelurahan Mekar jati sebanyak 8 ton. Laporan peredaran beras sintetis juga disampaikan sejumlah warga di Kota Jayapura, Papua. Yves Papare, warga Perumnas II, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, misalnya, mengaku pernah membeli satu kilogram beras di kios dekat tempat tinggalnya pada Selasa 19 Mei sore.
Ketika di masak untuk santapan malam kurang lebih sejam, beras yang dibeli itu tidak juga menjadi nasi, tetapi hanya berbentuk setengah matang. "Sehingga saya katakan kepada istri untuk menyimpannya, dan besok dimasak jadi bubur saja. Tapi keesokannya, saat dimasak dari pukul 11.00- 14.00 WIT, tidak juga menjadi bubur seperti pada umumnya, nasi kalau dimasak ulang pasti akan hancur dan menjadi bubur," katanya.
Yves pun mengakui sempat memakannya, namun rasanya berbeda jauh dari nasi pada umumnya. Rasanya beda, terasa penuh namun bukan kenyang. Bahkan, istrinya sempat mengeluhkan sakit perut. Milka Papuko, 69, tetangga Yves Papare, juga mengeluhkan hal yang sama. Dia mengaku bulan lalu membeli beras di pasar dengan kemasan 'beras Bulog 50 kilogram’, seperti beras yang diperuntukkan untuk PNS.
Beras yang dibelinya tersebut terlihat bening, bersih, dan tidak ada kotorannya. Setelah dimasak, berasnya ternyata tidak bisa menjadi nasi. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Jayapura Robert Lukas Nadap Awi membenarkan bahwa ada laporan warga mengenai penemuan beras yang diduga demikian. Sayangnya, dia tidak mendapatkan beras dimaksud karena sudah telanjur dibuang.
Kendati demikian, pilihannya sudah mengambil sampel dari kios penjual dan menyerahkan sampel ke BPOM. "Sementara ini kami belum bisa pastikan apakah itu beras plastik atau sintetis atau bukan, sehingga kami tidak bisa membuat pernyataan bahwa beras plastik sampai hari ini beredar di Kota Jayapura, kami masih me nunggu hasilnya dari BPOM," katanya.
Kepala Bulog Divisi Regional (Divre) Papua Arif Mandu yang dikonfirmasi memastikan bahwa beras yang didatangkannya aman. Sebaliknya, dia menga takan bahwa yang harus diwaspadai adalah beras yang berasal dari negara lain. "Tapi yang jelas ka lau beras Bulog tidak ada, nan ti bisa dicek, karena memang itu ditengarai beras berasal dari China, dan ini yang perlu diwaspadai, masuknya beras dari luar yang tidak teridentifikasi," tuturnya.
Merespons beredarnya beras sintetis, kemarin Komisi XI DPR RI langsung melakukan sidak ke Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta Utara. Wakil Ketua Komisi XI Jon Erizal menerangkan, sebagai gerbang masuk importir terbesar dalam per edaran barang di Indonesia, bukan tidak mungkin masuknya beras plastik yang berasal dari China sempat transit di Pelabuhan Tanjung Priok hingga akhirnya menyebar ke seantero Nusantara.
"Banyak yang bertanya kepada kami, kenapa beras plastik bisa masuk. Karena itu, kami datangi Bea Cukai. Menurut me reka (Bea Cukai Priok), untuk importasi beras plastik, bukan dari China," ungkap Jon, Ka mis sore (21/5) lalu. Komisi XI belum puas dengan penjelasan Bea Cukai karena baru sebatas berasumsi tanpa bukti konkret. "Artinya jangan sampai mereka (Bea Cukai Priok) bilang bukan dari Priok, namun nanti malah dari Priok. Karena itu, harus dipastikan lagi," jelas Jon. (Yan yusuf/khoirul muzakki/suharjono/ant/Koran Sindo)
(Rani Hardjanti)