JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambut gembira pembangunan smelter industri pengolahan nikel, yang dibangun PT Sulawesi Mining Investment (SMI), di Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Jokowi berharap, Sulteng tidak lagi mengekspor raw material atau barang mentah tetapi minimal sudah menjadi barang setengah jadi.
“Saya berikan target minimal 3 (tiga) tahun harus bisa memproduksi barang jadi, bukan raw material tetapi nantinya harus susah stainless stell,” kata Presiden Jokowi melansir halaman setkab, Jakarta, Sabtu (30/5/2015).
Presiden menyebutkan, jika diekspor dalam bentuk raw material nikel Sulteng hanya dihargai 30 USD per metric ton. Sementara kalau sudah diolah menjadi setengah jadi harganya naik drastis jadi 1.300 USD per metrik ton, dan kalau diekspor dalam bentuk stainless stell dihargai 2.600 USD per metrik ton.
“Ini akan memberi nilai tambah, akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Morowali. Bisa tanya ke gubernur berapa pertumbuhan ekonomi Morowali, 17 persen. Karena apa? Karena adanya investasi,” tutur Jokowi.
Presiden mengingatkan daerah-daerah lain agar memikirkan hal yang sama, jangan sampai mengekspor barang tambang dalam bentuk barang mentah. Namun harus diolah sehingga ada nilai tambah bagi negara kita.
Soal kemungkinan memberikan insentif bagi investor yang mau membangun smelter, Presiden Jokowi mengatakan, kalau memang memberikan nilai tambah semua akan dikalkulasikan. “Menteri Keuangan yang memberikan tax holiday, tapi pengajuannya ada hitung-hitungannya,” tutur Jokowi. (fsl)
(Rani Hardjanti)