Sebab, pasokan kedelai lokal relatif terbatas juga kualitasnya kalah jauh dengan kedelai impor.
Kenaikkan kedelai itu, tentu produksi mengeluarkan modal dua kali lipat.
Mereka perajin tempe untuk bertahan hidup mengurangi biaya produksi yang biasanya 60 kilogram kedelai, namun kini menjadi 32 kilogram.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah dapat melindungi para perajin tempe dengan memasok kedelai dengan harga murah dan terjangkau.
"Kami sangat terpukul dengan kenaikan kedelai karena keuntungan relatif kecil akibat biaya produksi cukup tinggi," katanya.
Dia mengatakan, apabila harga kedelai tidak segera dikendalikan pemerintah dipastikan ratusan perajin tempe dan tahu di Kabupaten Lebak terancam bangkrut dan menimbulkan pengangguran.
Kebanyakan perajin di sini bermodal relatif kecil dan jika kedelai naik tentu bisa gulung tikar.
Selain itu juga harga satuan tempe di pasaran tidak mengalami kenaikan.