JAKARTA - Pelemahan Rupiah yang terus terjadi, membuat industri sektoral yakni industri telekomunikasi terkena dampaknya. Sehingga diminta untuk melakukan antisipasi terhadap berbagai kemungkinan terburuk dalam bentuk jangka panjang.
Managing Director ECONIT Advisory Group Hendri Saparini mengatakan, padahal industri telekomunikasi pada 2014 mampu tumbuh hingga sembilan persen di mana saat itu menikmati masa emasnya.
"Jadi, kalau begitu kita harus menyiapkan diri untuk long term, tidak berfikir jangka pendek. Karena ini adalah industri pertumbuhan sangat tinggi," ujarnya dalam focus group discussion "Mencari Alternatif Solusi Terhadap Dampak Depresiasi Nilai Rupiah Pada Industri Telekomunikasi" di Gedung Kemenkominfo, Jakarta, Senin (7/9/2015).
Dengan demikian, dalam menghadapi pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini, maka para pelaku industri komunikasi tidak akan selalu bergantung pada negara lain.
Sekalipun, pada krisis 2008, China memang menjadi penyelamat perekonomian Indonesia. Namun, dalam perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini, Indonesia masih mencari penyelamat yang mampu mengatasi perlambatan ekonomi yang terjadi.
Lebih lanjut, tuturnya, hal tersebut terjadi sebab, di tengah ketidakpastian global, banyak negara lebih memikirkan bagaimama untuk menyelamatkan perekonomian negaranya masing-masing.
"Saya rasa, mereka menyelamatkan ekonomi mereka sendiri. Mereka akan mencari kebijakan bersama. Karena setiap negara menghadapi yang berbeda. Bagaimana mungkin China bertemu AS, AS katakan tolong kuatkan nilai tukar kamu (China)," pungkasnya.
(Fakhri Rezy)