JAKARTA - Nama Soejoedi Wirjoatmodjo mungkin tidak familier bagi sebagian orang. Namun salah satu karyanya hampir pasti dikenal seluruh Indonesia.
Ya, Soejoedi Wirjoatmodjo adalah orang nomor satu di balik berdirinya gedung MPR/DPR atau kerap disebut gedung kura-kura. Bertepatan dengan Hari Bangunan yang jatuh hari ini, Okezone akan mengulas bangunan ikonik beratap warna hijau yang berdiri di Senayan, Jakarta, karya Soejeodi tersebut.
Seperti dikutip dari Ensiklopedia Mini Mengenal Arsitek Indonesia, karya Irfan Arifuddin, terbitan Angkasa Bandung, Rabu (11/11/2015), Soejoedi adalah perancang Gedung MPR/DPR.
Pada 1965, Presiden Soekarno ingin membangun political venues untuk mewadahi Conference of The New Emerging Forces (Conefo), sebuh organisasi baru yang digagas untuk menandingi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.
Guna keperluan itu dibangun gedung untuk sidang Conefo. Pada awal Maret 1965 dimulai pelaksanaan pembangunan di bawah komado "Proyek Ganefo".
Laman Jakarta.go.id mencatat, pemancangan tiang pertama dilakukan pada 19 April 1965, akan tetapi pembangunan ini terhambat Pemberontakan G30S/PKI dan penyelenggaraan Conefo tidak dapat dilaksanakan.
Selajutnya gedung tersebut diambil alih Pemerintah Orde Baru untuk kemudian menjadi Gedung MPR-DPR RI. Pada 1968, Gedung Conefo resmi menjadi gedung MPR-DPR RI di bangun dengan biaya APBN. Gedung ini dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 60 hektare dan terletak di Jalan Gatot Soebroto, Senayan, Jakarta Selatan.
Gedung tempat para wakil rakyat dan berbagai daerah di Indonesia bersidang dan memutuskan kepentingan penting menyangkut bangsa dan negara. Di kompleks ini terdapat Museum MPR-DPR, yang mengoleksi dokumen-dokumen yang telah dihasilkan oleh MPR/DPR.
(Rani Hardjanti)