JAKARTA - Krisis listrik masih akan menghantui pulau Jawa dan Bali pada 2017-2018. Krisis listrik terjadi, jika tidak ada percepatan pembangunan pembangkit listrik selama 2016.
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menjelaskan, sampai saat ini masih ada defisit listrik. Untuk itu program pembangkit listrik 35.000 mega watt (mw) memang harus didukung.
"Cara pandang 35 ribu mw itu memang ada perbedaan Tapi saya bilang oke. Karena defisit listrik ini harus di carry over ke tahun selanjutnya. Nah bisa Jawa-Bali krisis listrik 2017-2018," kata Fabby yang juga sebagai pengamat ketenagalistrikan di Kantor PLN Pusat, Jakarta, Jumat (22/1/2016).
Fabby menambahkan, terlebih lagi performa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) belum optimal, sehingga diperlukan percepatan pembangunan pembangkit listrik pada 2016-2017.
"Pembangkit listrik bisa diperbaharui. Hal ini agar bisa dipastikan di 2018 tidak krisis listrik," tegasnya.
Fabby mengatakan, kebutuhan listrik sangat dibutuhkan. Apalagi, tanpa listrik, perekonomian tidak akan tumbuh. Hal ini juga untuk mengantisipasi jika ada rebound pertumbuhan ekonomi dunia.
"Ini untuk antisipasi reboundnya perekonomian. Pasti akan buat kebutuhan listrik naik. Ini waktu untuk up, tapi jangan sampai ngebebanin PLN juga," tukasnya.
(Fakhri Rezy)