Apalagi jika kawasan tersebut pada dasarnya berada di lokasi yang cukup strategis, baik untuk permukiman ataupun bisnis,’’ujar Panangian. Dia mencontohkan, rencana pembangunan infrastruktur transportasi darat di beberapa wilayah di DKI, seperti light rail transit (LRT) akan berpengaruh besar bagi pertumbuhan bisnis properti di Jakarta ke depannya.
Apalagi, lanjut dia, masyarakat sekarang ini tengah gandrung dengan konsep tinggal di superblok tengah kota yang memudahkan mereka untuk beraktifitas. Fenomena awal bangkitnya kawasan Cempaka Putih dan Pulomas terlihat dari pengembangan properti skala besar. Di antaranya Holland Village yang dilansir PT Lippo Karawaci Tbk, dan Sentosa Residence Jakarta yang dibangun Bahama Group dan Arandra Residence milik Gamaland.
Di kawasan Cempaka Putih, Lippo Group membandrol harga Rp23,7 juta per meter persegi untuk Holland One, sementara Holland Two sebesar Rp25,6 juta. Superblok Kensington dihargai Rp25,4 juta per meter persegi dan Sedayu City Rp28,3 juta per meter persegi.
Holland Village merupakan proyek yang mengintegrasikan sembilan jenis properti, yakni apartemen, menara perkantoran grade A, hotel, pusat perbelanjaan serta dan hiburan, rumah sakit yang dikelola oleh Siloam Hospitals Group, sekolah internasional oleh Yayasan Pelita Harapan, serta truang terbuka hijau, dan lainnya.
Pengembangan semua proyek tersebut diperkirakan akan mendukung kehadiran Cempaka Putih sebagai kawasan baru yang prospektif di Jakarta. Direktur Gamaland Properti Group, Dicky Iksan Soetikno beberapa waktu lalu mengatakan, terjadi beberapa perubahan yang sangat signifikan di kawasan Cempaka Putih.