JAKARTA - Jatuhnya harga minyak tentu mempengaruhi pendapatan bagi negara pengekspor minyak seperti Arab Saudi. Pasalnya, negara ini telah dipaksa untuk memotong pengeluaran pemerintah dalam anggaran mendatang dan meningkatkan produksi minyak mentah.
Melansir CNBC, Jumat (5/2/2016), banyak negara yang tergantung pada minyak harus menggali lebih dalam untuk menyeimbangkan anggaran. Negara kaya seperti Qatar dan Kuwait terlihat mudah melakukan hal itu. Sementara negara-negara miskin seperti Libya justru menciptakan perselisihan dan perang sipil. International Monetaruy Fund (IMF) memprediksi Libya butuh menjual minyak seharga USD269 per barel untuk menyeimbangkan anggaran.
Negara lain, seperti Arab Saudi termasuk sebuah negara yang stabil dengan cadangan yang cukup besar dari aset cadangan sekira USD624 miliar. Tetapi kebanyakan stabilitas itu digunakan untuk pekerjaan pemerintah dan belanja publik, terlebih saat ini harga minyak sudah jatuh cukup dalam yang membuat perbedaan nilai aset tersebut.
Jika menoleh ke belakang pada Agustus 2015, ketika minyak seharga antara USD48 dan USD41 per barel, diperkirakan Saudi akan bangkrut pada bulan Agustus 2018. Namun prediksi tersebut didasarkan pada harga minyak di USD40 per barel dan sebelum negara itu memotong belanja publik.
Pada 2016, anggaran Arab Saudi akan memotong 13,8 persen dari anggaran 2015. Meski begitu, negara ini diperkirakan akan mencapai defisit anggaran 12,9 persen dari PDB pada tahun 2016 menurut bank investasi.