SEMARANG - Pembangunan infrastruktur jalan provinsi di Jawa Tengah sering kali tersendat karena hujan yang kerap turun. Meski begitu, Bina Marga optimistis semua pekerjaan selesai sesuai jadwal pada November nanti.
“Kami terus bekerja keras, semoga target bisa tercapai. Karena betonisasi membutuhkan waktu agar kualitas benarbenar bisa bagus,” kata Kepala Bidang Bina Teknik pada Dinas Bina Marga Jateng Hanung Triyono di Semarang, kemarin. Pemprov Jateng menargetkan pada 2016 bisa memperbaiki 500 kilometer jalan di Jawa Tengah.
Dengan alokasi anggaran Rp2,5 triliun diharapkan kondisi jalan bisa benar-benar bagus sehingga bisa meningkatkan sektor perekonomian masyarakat di Jateng. Menurut Hanung, tahun ini ada 137 paket pembangunan infrastruktur di Jateng. Saat ini betonisasi terus digenjot agar saat Lebaran jalan di Jawa Tengah sudah bagus dan bisa dilalui arus mudik.
“Targetnya H-10 Lebaran sudah bisa mencapai 50 persen proses pembangunannya,” katanya. Ketika infrastruktur bagus, selain bisa menopang dan meningkatkan sektor perekonomian masyarakat, juga bisa menggenjot sektor pariwisata.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah Hadi Santoso mengapresiasi langkah pemprov yang fokus membangun infrastruktur di Jateng. Dia mengingatkan rekanan menjaga kualitas pembangunan jalan. “Agar usia beton benar- benar bertahan lama. Jangan sampai jalan yang sudah dibangun tahun ini, kembali rusak sebelum digunakan,” katanya.
Menurut Hadi, hingga kini masih banyak jalan di Jateng yang belum tersentuh pembangunan. Seperti di Sragen, ada jalan provinsi yang belum mendapat alokasi dana pembangunan padahal titik tersebut merupakan jalur vital sehingga titik Gemolong-Gabukan di Kabupaten Sragen rusak.
“Bahkan saat melewati jalur itu (Gemolong-Gabukan) yang merupakan jalur penghubung Sragen-Purwodadi dan Sragen menuju ke Jawa Timur, dengan panjang jalan 12 km, kendaraan melaju berkecepatan 10 km per jam saja tidak bisa.
Selain berlubang, kondisinya sangat parah,” tuturnya. Namun, secara umum Hadi menilai persiapan infrastruktur untuk mudik Lebaran bisa dikatakan relatif lebih siap meski harus ada beberapa yang disinkronkan.
(Raisa Adila)