Mudik Lebaran Munculkan Bisnis Musiman

ant, Jurnalis · Minggu 17 Juli 2016 17:27 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 17 320 1439961 mudik-lebaran-munculkan-bisnis-musiman-a5yfCIhBd3.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Dimana ada permintaan pasti ada suplai yang berkembang. Demikian juga saat arus mudik Lebaran yang tinggal menyisakan arus balik beberapa hari mendatang.

Salah satunya adalah bisnis musiman yang muncul sepanjang jalur mudik karena mengetahui ada sesuatu yang dibutuhkan jutaan pemudik.

Tempat istirahat yang dengan dilengkapi toilet menjadi tempat yang selalu dicari pemudik baik melalui jalan tol maupun jalan arteri. Tidak hanya untuk melepas lelah pengemudi tetapi juga untuk memberikan kesempatan pemudik untuk mengeluarkan hajatnya.

Tidak heran selama puncak arus mudik tempat istirahat di jalan tol lebih banyak penuh sehingga untuk sementara ditutup. Sedangkan ada jalur arteri, stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU menjadi tempat yang paling favorit, karena pasti ada fasilitas toilet, dan mushala.

Para pedagang juga mengambil momentum itu karena banyak pemudik berhenti, sehingga di setiap SPBU, tempat peristirahatan dan masjid bermunculan pedagang musiman baik yang tradisional maupun pedagang yang disponsori perusahaan besar seperti Indofood, Mayora, Kapal Api, Torabika, dan sebagainya.

Saat kemacetan parah sampai belasan sepanjang di Tol Kanci-Pejagan Brebes , Jawa Tengah, banyak pemudik terpaksa buang hajat di pinggir jalan tol dengan air seadanya. Sementara di jalur arteri Pantura dari Cikampek sampai Tegal, pemudik masih tertolong dengan adanya SPBU, mesjid, dan munculnya bisnis toilet dadakan yang dibuka di sebagian besar rumah penduduk.

Pinggiran jalan di jalur mudik baik jalur utama maupun jalur alternatif, dipenuhi tenda-tenda darurat para penjaja makanan musiman. Berbagai minuman kemasan dan minuman seduhan disdiakan, sementara makanan juga beragam mulai mie instan, nasi rames, sampai makanan khas daerah.

Pecel lele dan ayam goreng ikut juga menjamur di sepanjang jalan arteri. Sebagian mengaku mereka bermigrasi tempat jualan dari wilayah perkotaan ke wilayah yang banyak dilalui pemudik. Saat menjelang buka, antrean tampak di warung pecel lele. Pemudik banyak mengambil menu itu karena dianggap harga makanannya standar dan mencegah mereka di"kerjai" pedagang.

Usaha yang lain yang tumbuh karena munculnya kemacetan parah adalah para pedagang asongan bbm dan asongan air mineral, tidak hanya di jalan arteri, tetapi mereka juga berani mengejar konsumen sampai jalan tol.

Saat banyak pompa bensin kehabisan stok, sebagian dari mereka berburu bahan bakar dari pengecer-pengecer di pelosok desa. Mereka dicaci karena menjual bbm dengan harga tinggi tetapi juga dicari karena tanpa mereka makin banyak mobil mogok dijalan.

Satu lagi usaha musiman yang tumbuh dan dibutuhkan pemudik yaitu penunjuk jalan. Mereka adalah relawan yang hampir selalu ada khususnya di tiap persimpangan jalan.

Kehadiran mereka terutama di jalur alternatif sangat membantu, seperti yang dialami Antara saat melintasi jalur alternatif Kuningan-Bandarharjo-Ketanggungan. Selepas Bandarharjo memasuki Ketanggungan, banyak relawan yang mengarahkan ke pemudik agar bisa mendapat jalur alternatif yang lebih cepat dan terhindar dari kemacetan.

Usaha di atas memang tumbuh karena adanya kebutuhan pemudik, namun ada juga jasa yang membuat jengkel pemudik seperti jasa pengelap kaca mobil dengan air sabun dan pencuci mobil.

Tanpa ada persetujuan pemilik kendaraan, para "penyemprot" dengan seenaknya menguyur kaca mobil pemudik, setelah itu lap sebentar dan ketok pintu untuk minta uang jasa. Mereka beraksi di sejumlah titik kemacetan mulai dari Losari sampai Brebes dan di jalur alternatif Pejagan-Ketanggungan sampai Prupuk. Sasaran mereka adalah mobil pribadi yang terjebak macet, dan pengemudi mudik hanya bisa pasrah mengeluarkan uang recehan.

Omzet Sejumlah pedagang musiman mengaku omzet mereka naik dari luar biasa, tetapi ada juga yang mengungkapkan omzetnya tidak jauh berbeda dengan musim mudik Lebaran tahun sebelumnya.

Penyedia toilet rumahan di Jalur Pantura dari Indramayu sampai Tegal, mengaku saat arus mudik padat mulai H-4 dan arus balik sampai H+6, rata-rata satu kamar mandi dikunjungi 50 sampai 100 pemudik sehingga jika tarifnya Rp2.000/orang maka mereka meraup Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, per kamar. Kalau mengelola lima kamar bisa meraup sampai satu juta rupiah per hari.

Namun, penjaga toilet di sekitar SPBU mengaku lonjakan pendapatan sampai 20 kali lipat dari hari libur biasa.

"Kalau hari libur biasa ada 100-an pengunjung, tapi saat puncak mudik sejak tiga hari sebelum Lebaran, rata-rata ada 2.000 an orang kalau dihitung 24 jam," kata Manto, penjaga toilet di dekat SPBU Bulakamba, Brebes.

Pedagang musiman makanan di sejumlah SPBU di Pantura juga mengaku omzetnya naik tiga kali lipat dari Libur biasa.

"Pop mie dan kopi paling laris, naiknya 10 kali lipat dari libur biasa," kata Muslimin di SPBU 500 meter dari jalur keluar tol Kanci.

SPBU Muri 44.521.08 di Kota Tegal, menjadi SPBU yang didambakan pemudik karena yakin tak perlu banyak antre ke toilet. Ada 107 urinoir dan toilet yang disediakan. Selain itu ada fasilitas kasur untuk tidur dengan tarif Rp40 ribu per jam di ruang berpendingin. Deni Pramata, kepala pengelola, mengatakan kebanyakan pemudik sudah memesan/ booking lebih dulu untuk tidur di area yang sudah disediakan. Ada dua ruangan tidur besar dengan kapasitas 27 dan 55 tempat tidur.

"Sejak H-3 sampai hari Lebaran selalu penuh, dengan rata-rata tidur tiga sampai empat jam," katanya Tahun ini, SPBU Muri itu menambah satu lagi kafe dari dua kafe yang sebelumnya telah ada agar pemudik juga tak perlu banyak antre untuk pesan makanan. Fasilitas lain SPBU itu antara lain arena bermain anak, mushala berpendingin, dan minimarket 24 jam.

Pedagang musiman juga memenuhi areal depan SPBU itu yang umumnya merupakan gerai dari perusahaan besar seperti Indofood yang menampilkan sajian pop mie siap saji.

"Saat puncak pengunjung pada H-2, pop mie habis 30 dus," kata Arum, petugas penjualan.

Di antara sejumlah bisnis musiman selama mudik ada juga yang mengaku pendapatannya menurun dibanding musim mudik sebelumnya seperti yang dialami pedagang di dekat pintu tol Cikopo.

"Sejak pintu tol ini tidak lagi ada transaksi, pengendara yang mampir makin menurun di banding mudik sebelumnya, tetapi dibanding hari biasa, ada peningkatan pemasukan," kata Misan (41), pedagang setempat.

Pedagang asongan BBM Salah satu jasa usaha yang menjadi celaaan sekaligus ditunggu pemudik yang kehabisan bahan bakar adalah pedagang asongan BBM. Saat kemacetan parah di jalan tol maupun jalur alternatif di Kabupaten Bebres, sejak H-2 sampai malam takbiran, ratusan kendaraan kehabisan bahan bakar. Ada yang mogok di pinggir jalan, ada juga yang menunggu antrean di SPBU yangmengular sampai keluar areal SPBU.

Banyak warga yang berinisiatif menjadi pengecer BBM untuk membantu pemudik sekaligus mendapat keuntungan. Salah satunya dari mereka ada Tonari (29), warga Desa Kubangsari, Ketanggungan Timur, Brebes.

Bensin jenis pertamax yang dijual antara Rp40.000 sampai Rp50.000 per liter, itu sempat membuat kaget para pemudik, namun ia mempunyai alasan bahwa pertamax itu ia beli dari sejumlah pengecer di desa-desa sekitar Brebes dan bukan dari SPBU.

"Harga dari pengecer sudah naik sampai Rp30 ribu per liter, sementara untuk mencari pengecer yang masih ada stok juga sulit sampai saya mencari ke arah Bandarharjo, karena di semua desa di sini sudah habir," kata ayah satu anak itu.

Ia mengaku hanya mengambil keuntungan bersih Rp10 ribu per liter, kalau pertamax dari desa sekitarnya dia jual Rp40 ribu per liter, tetapi kalau mengambil dari desa-desa yang jauh ia jual Rp50 ribu per liter.

"Selama empat hari kemacetan di jalur Ketanggungan-Prupuk saya sudah menjual sekitar 50 liter," katanya.

Harga yang dijual itu masih dibawah pengecer lain, karena ada yang menjual sampai Rp80.000 per liter. Pemudik terpaksa membeli satu sampai dua liter untuk mencapai SPBU terdekat. Rizki, salah satu pemudik mengaku terpaksa membeli dua liter dengan harga Rp150 ribu karena posisi bbm di kendaraanya hanya tinggal setengah literan.

"Saya beli cuma untuk antre ke SPBU," katanya yang saat itu menunggu hampir tujuh jam di SPBU Larangan, Brebes.

Sebagian pemudik mengaku terbantu dengan pengasong BBM itu karena tidak mungkin pemudik mencari sendiri bbm eceran ke desa-desa terdekat.

Bisnis musiman selalu muncul selama mudik masih menjadi bagian tradisi masyarakat. Keberadaan mereka cukup membantu memenuhi kebutuhan pemudik sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat sepanjang jalur mudik untuk meraih pendapatan tambahan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini