Menurut Wianda, saat ini masyarakat banyak yang mau menggunakan mobil diesel, seperti di negara-negara Eropa. Mesin diesel dengan bahan bakar solar lebih hemat dan ramah lingkungan. Di Indonesia, mesin diesel tidak berkembang karena ketiadaan bahan bakar yang sesuai.
"Kita sebelumnya punya Pertamina Dex tapi harganya terlalu tinggi. Bio solar, cetane number-nya masih rendah yakni 48. Karena itu kita luncurkan Dexlite dengan cetane number 51," ungkapnya.
Wianda menambahkan, peluncuran Dexlite juga memberikan kesempatan kepada industri kendaraan bermotor nasional untuk memproduksi mobil diesel.
"Dengan begitu masyarakat yang ingin mengunakan kendaraan bermesin diesel tidak perlu ragu-ragu lagi sekarang," tandasnya.
Pembina III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman Maman Rusdi mengakui, tidak tersedianya bahan bakar diesel berstandard Euro II ke atas menjadi penyebab tidak berkembangnya produk-produk bermesin diesel di Indonesia.