"Tapi ada dua hal juga, ada yang tidak aktif, karena orang enggak mau jual. Ada juga yang memang tidak aktif karena tidak ada permintaan," kata Tito.
Terkait hal tersebut, untuk kesekian kalinya pihak BEI kembali berencana memanggil emiten-emiten yang sahamnya tidur.
"Bursa akan mengundang mereka semua seperti peraturan luar negeri, jika jumlah sama di bawah biasanya diminta menunjuk market maker. Tapi untuk menunjuk market maker, brokernya mesti diperkuat dulu modalnya. Nah ini lagi kerja semua," imbuh Tito.
Sudah menjadi rahasia umum, persoalan saham tidur masih menjadi pekerjaan rumah industri pasar modal. Maraknya saham tidur salah satunya karena minimnya jumlah saham yang beredar di publik, sehingga menyebabkan likuiditas rendah.
Pada 20 Januari 2014, BEI pun menerbitkan keputusan direksi untuk meningkatkan kualitas perusahaan tercatat dan likuiditas saham melaluisurat No:Kep-00001/BEI/01-2014 tentang Perubahan Peraturan Nomor I-A. Salah satu pokok perubahan dalam peraturan yang mulai berlaku pada 30 Januari 2014 itu adalah terkait jumlah saham yang beredar di publik (free float).