MUARADUA – Naik turunnya harga sejumlah komoditas tanaman pertanian, membuat para petani menduga ada campur tangan permainan para tengkulak.
Mereka diduga memanfaatkan musim panen kopi dan lada untuk meraih untung berlipat-lipat sehingga merugikan kalangan petani. Pantauan KORAN SINDO PALEMBANG di lapangan, hampir semua komoditas andalan harga jualnya di pasaran tidak stabil seperti kopi kini hanya dijual dengan harga Rp18.000/kilogram, dan harga lada hanya Rp100.000- 110.000/kilogram.
Harga jual komoditas ini tergantung bagaimana harga pasaran hasil panen petani di wilayah kecamatan masing-masing. Biasanya terdapat perbedaan kisaran harga antara Rp5.000-10.000/kilogram. Salah seorang petani lada, Nusron Khaidi mengaku permasalahan harga sudah menjadi permasalahan setiap tahun di hadapi petani.
”Harga cenderung mengalami naik turun hampir dialami kopi atau harga lada. Kalau masuk musim panen pasti harganya rendah, akan jauh berbeda dengan harga lada dan kopi di wilayah Sumsel lainnya,” keluhnya, kemarin. Dia mengaku heran tidak stabilnya harga kedua komoditas andalan petani tersebut.
Pada hal, dari segi kualitas hasil panen kopi dan lada dihasilkan jika dibandingkan hasil daerah lainnya sama bahkan lebih tinggi. ”Aneh sekali, petani serba salah kalau sudah masalah harga ini, paling nggak ada solusinya. Saat kebutuhan lagi tinggi. Enggak tahunya harga jual kopi dan lada turun drastis,” tambahnya. Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan, Pasar dan Kebersihan OKU Selatan, Rizal Pahlefi mengakui jika kendala harga jual komoditas pertanian ini seringkali menjadi permasalahan yang dikeluhkan petani.
”Kita kesulitan mau menindak tegas, para tengkulak biasanya beralasan untuk biaya transportasi dan laba perdagangan,” katanya. Dia mengatakan, solusi permasalahan harga hanya dapat dilaksanakan hanya dengan mendirikan pabrik pengolahan ke dua komuditas andalan ini.
(Raisa Adila)