SOLO - Bagi pencinta batik tentu anda mengenal batik cap, namun taukah anda, profesi unik yang ditekuni sejumlah orang di kota Solo, Jawa Tengah yang pandai membuat ukiran cap batik dari bahan tembaga.
Inilah yang dilakukan sejumlah orang yang berada di kampung Bratan Pajang Laweyan, kota Solo. Mereka tengah menyelesaikan pesanan cap batik yang dipesan pengusaha batik yang di indonesia.
Profesi langka membuat cap batik dari bahan tembaga ini kian dicari, dibutuhkan kesabaran untuk menekuninya.
Ya membuat batik cap memang sulit, namun membuat cap batik lebih sulit. Proses pembuatan cap batik tidak begitu saja, namun melalui proses yang rumit. Lembaran tembaga dipotong sesuai ukuran kemudian dibentuk mengikuti pola yang disiapkan sebelumnya.
Menariknya untuk menyesuaikan pola ini, tembaga di potong kecil-kecil, keahlian memotong pun berdasarkan perkiraan tidak diukur. Yang paling sulit adalah merangkai tembaga ini menjadi sebuah gambar dan tembaga ini saling mengkait satu sama lain.
proses selanjutnya adalah cetakan ini dimasak menggunakan cairan gondorukem atau getah pohon pinus yang berfungsi membuat cap mengkilat sehingga motif dapat lebih terlihat. Proses ini menjadi proses penting dalam membuat cap batik.
Para produsen cap batik di kota solo semakin sedikit salah satunya terpusat di sekitar kampung batik laweyan. Agus S Sunarto salah satu perajin cap batik mengaku tak hanya melayani pesanan dari toko batik di kampung batik Laweyan, karya-karya cap batiknya pun pernah sampai di luar kota bahkan luar pulau jawa.
Agus menyatakan, profesi ini, kini sulit ditemui karena membutuhkan kesabaran. Di bengkel miliknya para perajin yang membantu agus rata-rata berusia lebih dari 50 tahun, regenerasi memang menjadi permasalahan tersendiri bagi para produsen cap batik.
Untuk mengatasi permasalahan regenerasi, kini dirinya membuka diri terhadap segala ilmu baru dan terbuka bagi siapa saja yang mau belajar membuat cap batik.
Rata-rata cap batik dapat bertahan belasan tahun, harga pun bervariasi mulai dari Rp800 ribu hingga jutaan rupiah tergantung kualitas bahan dan rumitnya pengerjaan.
(Martin Bagya Kertiyasa)