JAKARTA - Belum lama dilantik menjadi Menteri Keuangan, Sri Mulyani menegaskan target penerimaan dalam Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 terlalu ambisius.
Usai sidang kabinet pada 3 Agustus 2016, Sri Mulyani menuturkan, penerimaan negara dari sektor perpajakan diprediksi kurang Rp219 triliun dari target yang ditetapkan pada APBNP 2016. Sri Mulyani berdalih penurunan penerimaan negara dari sektor perpajakan tersebut lebih dikarenakan jatuhnya harga komoditas seperti migas, batubara, sawit dan komoditas pertambangan lainnya.
Beberapa pihak menilai Sri Mulyani tidak yakin dengan kinerja Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi. Lantas mungkinkah Ken akan dicopot?
Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan pergantian Dirjen Pajak adalah keputusan Menteri dan Presiden.
[Baca juga: Penerimaan Pajak Akan Kurang Rp219 Triliun]
Menurutnya, Ditjen Pajak memerlukan pemimpin yang lebih baik dan segar. Paling tidak Dirjen Pajak memiliki visi yang sama dengan Menteri Keuangan dan Presiden.
"Kalau dilihat harus diakui Pak Ken satu paket dengan Bambang Brodjo, kebijakannya sama, begitu Sri Mulyani punya kebijakan beda kemungkinan juga punya selera yang beda, tidak menutup kemungkinan tapi harus diberikan kesempatan apakah bisa berhasil amnesty, evaluasi nya harus akhir tahun," kata dia kepada Okezone.
Sebelumnya, Sri Mulyani mengatakan, pada 2014 realisasi penerimaan negara dari sektor pajak itu kira-kira Rp100 triliun di bawah target yang telah ditetapkan. Bahkan, pada 2015 realisasi penerimaan pajak Indonesia berdasarkan LKPP sebesar Rp248,9 triliun lebih kecil dari yang direncanakan.
(Raisa Adila)