2. Tantangan saat bekerja
Terlepas dari risiko kesehatan yang mereka hadapi, pekerjaan seorang astronot sama sekali tidak mudah. Bekerja di lingkungan tanpa gravitasi mengurangi fleksibilitas pergerakan para astronot, sehingga hal sekecil membuka tutup botol saja bisa memakan waktu berjam-jam.
Mereka umumnya bekerja menggunakan sarung tangan EVA yang mengurangi sensitivitas tangan. Karenanya, ketika mengenakan sarung EVA, mereka kesulitan memperkirakan tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan. Imbasnya, hal ini sering menyebabkan cedera pada tangan para astronot, belum lagi risiko kehilangan kelembapan di jari-jemari dan bakteri dari pemakaian yang berkepanjangan.
3. Gaji
Kandidat astronot bisa berasal dari khalayak umum atau dari anggota militer, dan besaran gaji mereka umumnya sesuai tingkatan jabatan yang ditentukan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Selain gaji, mereka juga mendapat asuransi kesehatan dan jiwa.
Untuk kandidat astronot dari khalayak umum, tingkatan GS-12 mendapat gaji senilai USD65,140 per tahun (sekira Rp847 juta) dan tingkatan GS-13 bisa memperoleh gaji hingga USD100,701 per tahun (sekira Rp1,3 miliar).