Seperti Ini Tantangan Bekerja di Luar Angkasa

Agregasi Qerja.com, Jurnalis
Selasa 11 Oktober 2016 10:35 WIB
Bekerja di luar angkasa ada tantangannya (Foto: Qerja)
Share :

LINGKUNGAN kerja yang dihadapi para astronot sehari-hari mungkin sebetulnya tidak ekstrem yang ditampilkan film-film Hollywood, tapi pekerjaan ini memang bukan untuk semua orang. Pelatihan dan penyaringan yang ketat dibutuhkan untuk mempersiapkan para individu yang akan menjalani salah satu pekerjaan yang paling menarik ini secara fisik dan mental.

Walau begitu, jika ditelisik lebih dalam, para astronot yang bekerja di luar angkasa sebetulnya tidak jauh berbeda dengan Anda yang bekerja menapak bumi. Sama-sama pegawai menghadapi tantangan kerja, mendapat gaji, dan punya waktu istirahat. Kira-kira, bagaimana rasanya bekerja di luar angkasa?

1. Pekerjaan astronot

Para astronot di Stasiun Luar Angkasa NASA bekerja sekira 16 jam sehari dan harus selalu aktif 24 jam jika dibutuhkan. Menurut laman NASA, sederhananya, para kru umumnya melakukan eksperimen sains di lingkungan minim gravitasi dan memonitor kondisi Stasiun Luar Angkasa. Mereka banyak melakukan pengecekan sistem, pembersihan filter, perbaikan komputer, dan platform orbit Stasiun Luar Angkasa.

Selain itu, mereka juga melakukan eksperimen medis dan terus memonitor pengaruh lingkungan rendah tekanan terhadap kondisi fisik mereka sendiri.

2. Tantangan saat bekerja

Terlepas dari risiko kesehatan yang mereka hadapi, pekerjaan seorang astronot sama sekali tidak mudah. Bekerja di lingkungan tanpa gravitasi mengurangi fleksibilitas pergerakan para astronot, sehingga hal sekecil membuka tutup botol saja bisa memakan waktu berjam-jam.

Mereka umumnya bekerja menggunakan sarung tangan EVA yang mengurangi sensitivitas tangan. Karenanya, ketika mengenakan sarung EVA, mereka kesulitan memperkirakan tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan. Imbasnya, hal ini sering menyebabkan cedera pada tangan para astronot, belum lagi risiko kehilangan kelembapan di jari-jemari dan bakteri dari pemakaian yang berkepanjangan.

3. Gaji

Kandidat astronot bisa berasal dari khalayak umum atau dari anggota militer, dan besaran gaji mereka umumnya sesuai tingkatan jabatan yang ditentukan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Selain gaji, mereka juga mendapat asuransi kesehatan dan jiwa.

Untuk kandidat astronot dari khalayak umum, tingkatan GS-12 mendapat gaji senilai USD65,140 per tahun (sekira Rp847 juta) dan tingkatan GS-13 bisa memperoleh gaji hingga USD100,701 per tahun (sekira Rp1,3 miliar).

Laman NASA tidak menyebutkan gaji astronot dari anggota militer. Namun mereka tetap dianggap sebagai bagian dari militer yang berhak mendapat gaji, bonus, dan hari cuti yang sama dengan anggota militer yang sedang bertugas lainnya. Astronot yang berstatus militer juga mendapat tunjangan untuk tempat tinggal dan makanan.

4. Waktu istirahat

Laman NASA menyebutkan bahwa mayoritas astronot di NASA senang mengamati planet bumi dengan nuansa warnanya di luar jendela Stasiun Luar Angkasa. Bisa Anda bayangkan luar biasa indahnya pemandangan itu, bukan? Matahari terbit dan terbenam juga merupakan panorama yang bisa mereka nikmati.

Walau tidak bisa pulang ke rumah, mereka juga mendapat libur di akhir pekan. Di Stasiun Luar Angkasa, mereka bisa menonton film, mendengarkan musik, membaca buku, bermain kartu, atau bicara dengan keluarga mereka.

Selain itu, NASA juga menyediakan perangkat olahraga seperti sepeda dan treadmill untuk menjaga mereka agar tetap fit.

(Tuty Ocktaviany)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Finance lainnya