Lee pun harus melarikan diri ke Jepang lantaran pada Mei 1961 terjadi kudeta militer di Korea. Di Tokyo, dia mengetahui bahwa dirinya menjadi buronan utama pemerintahan Korea yang baru. Tak kehabisan akal, dia pun menggelar pertemuan dengan Mayjen Park Chung-hee, Kepala Militer Korea saat itu. Dia pun berhasil mendapatkan kesepakatan, yakni dosa-dosa masa lalunya akan dihapuskan, dengan imbalan dia harus membantu transformasi industri Korea.
Sepanjang periode 1970-an, Samsung pun berkembang ke industri lain seperti keuangan, media, bahan kimia, dan pembuatan kapal. Grup Samsung pun memasuki industri elektronik. Guna mengembangkan divisi elektronik, dia pun mendirikan Samsung Electronics Co, co Samsung Electro-Mechanics, co Samsung Corning, dan Samsung Semiconductor & Telecommunications Co, serta membuat fasilitas di Suwon.
Lee meninggal pada 1987 dan meninggalkan perusahaan tersebut kepada putranya Lee Kun-hee. Berbeda dengan ayahnya yang tidak pernah lulus dari universitas, Lee junior memiliki gelar dari sekolah bergengsi di Korea, Jepang, dan Amerika Serikat. Menariknya, dia lulus dari Waseda University, universitas yang dulu pernah ditempati ayahnya.
Pada akhir 1990-an, setelah terjadinya krisis keuangan Asia, banyak chaebol atau para pendiri yang kehilangan kendali dari perusahaan mereka. Namun, hal ini tidak terjadi pada Samsung. Samsung masih dijalankan oleh banyak keturunan Lee Byung-chull dan 100 tahun kelahirannya yakni pada 2010, dirayakan dengan banyak kemegahan.
(Martin Bagya Kertiyasa)